<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Red and Blue</title>
	<atom:link href="http://nandarodiyana.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nandarodiyana.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 06 Dec 2008 13:02:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='nandarodiyana.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Red and Blue</title>
		<link>http://nandarodiyana.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://nandarodiyana.wordpress.com/osd.xml" title="Red and Blue" />
	<atom:link rel='hub' href='http://nandarodiyana.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kerajinan Tangan</title>
		<link>http://nandarodiyana.wordpress.com/2008/12/05/kerajinan-tangan/</link>
		<comments>http://nandarodiyana.wordpress.com/2008/12/05/kerajinan-tangan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 11:45:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nandarodiyana</dc:creator>
				<category><![CDATA[bebas]]></category>
		<category><![CDATA[2004]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>
		<category><![CDATA[fikom]]></category>
		<category><![CDATA[internasinal]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[kerajinan]]></category>
		<category><![CDATA[kerajinan tangan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[nanda]]></category>
		<category><![CDATA[nanda rodiyana]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>
		<category><![CDATA[pasar internasiona]]></category>
		<category><![CDATA[pasar internasional]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[tangan]]></category>
		<category><![CDATA[unpad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nandarodiyana.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Ian sedang mengerjakan Djimbe di bengkel seninya, Chak-chak Art Shop yang terletak di Jalan Raya Jatinangor no 9. Djimbe Jatinangor Tembus Pasar Luar Negeri Djimbe dan guiro, keduanya adalah alat musik tradisional yang berasal dari luar negeri. djimbe berasal dari Afrika sedangkan guiro berasal dari Amerika latin. Namun ternyata kedua alat musik ini biasa diproduksi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nandarodiyana.wordpress.com&amp;blog=3497779&amp;post=39&amp;subd=nandarodiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp mceIEcenter">
<dl class="wp-caption aligncenter">
<dt class="wp-caption-dt"><img class="size-medium wp-image-41" title="dsc008273" src="http://nandarodiyana.files.wordpress.com/2008/12/dsc008273.jpg?w=300&#038;h=225" alt="ok" width="300" height="225" /></dt>
</dl>
<p><em>Ian sedang mengerjakan Djimbe di bengkel seninya, Chak-chak Art Shop </em>yang terletak di Jalan Raya Jatinangor no 9.</div>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Djimbe Jatinangor Tembus Pasar Luar Negeri</strong></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Djimbe dan guiro, keduanya adalah alat musik tradisional yang berasal dari luar negeri. djimbe berasal dari Afrika sedangkan guiro berasal dari Amerika latin. Namun ternyata kedua alat musik ini biasa diproduksi oleh Ian Sopyan (36), seorang pengrajin dari Cibeusi, Jatinagor, Bandung.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Ian mengaku awalnya melihat sebuah Djimbe dan memperhatikannya saja, karena iseng ia mencoba menirunya, tenyata ia berhail membuat sebuah Djimbe dan menjualnya kepada teman. Semenjak saat itu pada 1999 Ian mulai menekuni dunia kerajinan tangan ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;">“Awalnya pada tahun 1999 saya melihat djimbe dan memperhatikannya, lalu saya mencoba membuatnya sendiri, ternyata saya berhasil membuatnya. Lalu saya menjualnya kepada teman. Semenjak itu saya mulai menekuni kerajinan tangan ini,” kata Ian.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Awalnya Ian mengaku kesulitan untuk menjual produk kerajinan tangan hasil karyanya ini, namun saat itu pada tahun 2000 Ian mengetahui di Gasibu, Bandung digelar sebuah pameran seni, Ian pun mencoba mengikuti pameran itu, ternyata antusiasme masyarakat cukup tinggi akan produk yang ia buat.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>“Waktu itu sekitar tahun 2000 ada pameran di Gasibu, Bandung dan saya mengikutinya, ternyata lumayan laris. Semenjak saat itu juga saya punya <em>link</em> untuk pemasarannya,” ujar Ian.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, baru pada tahun 2001 Ian mendirikan bengkel seni yang diberi nama <em>Chak-chak Art Shop </em>yang terletak di Jalan Raya Jatinangor no 9.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;">Di sini Ian dan sejumlah karyawannya memproduksi berbagai macam kerajinan tangan, antara lain djimbe, guiro, didgerindo, marawis, congkak, rebana, tanimbar, patung, dan topeng. <span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;">Untuk membuat djimbe Ian membutuhkan bahan baku kayu, kawat, tambang dan kulit kambing. Bahan baku kayu yang kini semakin sulit didapatkan dari daerah Bandung didapatkan dari daerah Blitar. Sedangkan kulit kambing, biasanya didapatkan dari Solo dan Garut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;">Saat ini Ian mengaku tengah sibuk menangani pesanan djimbe dari para pembeli. Karena itu ia membeli djimbe setengah jadi dari para pengrajin di daerah Blitar. Ian membuat djimbe setengah jadi tersebut hingga menjadi djimbe siap pakai.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;">“Saat ini karena banyak pesanan jadi saya mendatangkan djimbe setengah jadi dari daerah Blitar, sedangkan kulit kambing dari garut dan solo. Kami megampelas, mengukir, mengecat dan menyelesaikan djimbe setengah jadi itu hingga siap pakai.” Ujar Ian.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;">Untuk menangani usahanya ini Ian telah mempekarjakan tujuh orang karyawan pengrajin. Pembeli produk hasil karya Ian tidak hanya berasal dari Bandung saja, tapi juga telah sampai ke Kalimantan, Medan, dan Bali. Bahkan, Ian mengaku hasil karyanya telah sampai ke luar negeri, diantaranya ke Kuwait dan Brunai Darussalam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;">Selain Ian masih banyak pengrajin lainnya di daerah Cibeusi, Jatinangor, Bandung. Menurut Ian para pengrajin di daerahnya sangat membutuhkan koperasi agar pemasaran produk-produk kerajinan tangan ini menjadi mudah. Para pengrajin pemula biasanya sangat sulit memasarkan karyanya padahal karya tersebut mampu bersaing baik di dalam maupun di luar negeri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;">“Sulitnya pemasaran membuat para pengrajin pemula biasanya menjual murah hasil karyanya pada pembeli, mungkin karena mereka berpikir lebih baik laku dari pada tidak laku sama sekali, sehingga banyak yang merugi dan akhirinya gulung tikar. Karena itu dibutuhkan suatu Koperasi pengrajin.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;">
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;">(tulisan ini dibuat saya magang di Harian SINDO, dimuat tanggal 20-11-2008)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;">
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;">
<p class="MsoNormal">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nandarodiyana.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nandarodiyana.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nandarodiyana.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nandarodiyana.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nandarodiyana.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nandarodiyana.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nandarodiyana.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nandarodiyana.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nandarodiyana.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nandarodiyana.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nandarodiyana.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nandarodiyana.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nandarodiyana.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nandarodiyana.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nandarodiyana.wordpress.com&amp;blog=3497779&amp;post=39&amp;subd=nandarodiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nandarodiyana.wordpress.com/2008/12/05/kerajinan-tangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/75494fb68b1603ea9d2cfca703725741?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nandarodiyana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nandarodiyana.files.wordpress.com/2008/12/dsc008273.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">dsc008273</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Komunitas On-line</title>
		<link>http://nandarodiyana.wordpress.com/2008/12/05/komunitas-on-line/</link>
		<comments>http://nandarodiyana.wordpress.com/2008/12/05/komunitas-on-line/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 10:33:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nandarodiyana</dc:creator>
				<category><![CDATA[bebas]]></category>
		<category><![CDATA[2004]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[babakan]]></category>
		<category><![CDATA[fikom]]></category>
		<category><![CDATA[foto]]></category>
		<category><![CDATA[fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[hobi]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[maya]]></category>
		<category><![CDATA[nanda]]></category>
		<category><![CDATA[nanda rodiyana]]></category>
		<category><![CDATA[on line]]></category>
		<category><![CDATA[unpad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nandarodiyana.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Ayofoto.com Wadahi Idelisme Hingga Komersialisme BUDAYA komunitas on- line yang berkembang saat ini di tengah-tengah masyarakat tampaknya semakin beragam. Tidak jarang komunitas-komunitas tersebut hanya berasal dari kesamaan hobi atau kesamaan profesi. Seperti halnya sebuah komunitas on line, Ayo Foto.Com. Komunitas yang diberi nama Ayo foto.com ini merupakan sebuah komunitas on-line para pecinta dunia fotografi. Ayo [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nandarodiyana.wordpress.com&amp;blog=3497779&amp;post=24&amp;subd=nandarodiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">Ayofoto.com Wadahi Idelisme Hingga Komersialisme</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">BUDAYA</span></strong><span lang="IN"> komunitas <em>on- line</em> yang berkembang saat ini di tengah-tengah masyarakat tampaknya semakin beragam. Tidak jarang komunitas-komunitas tersebut hanya berasal dari kesamaan hobi atau kesamaan profesi. Seperti halnya sebuah komunitas on line, Ayo Foto.Com.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>Komunitas yang diberi nama Ayo foto.com ini merupakan sebuah komunitas <em>on-line</em> para pecinta dunia fotografi. Ayo foto. Com menawarkan beberapa keuntungan bagi para anggotanya, diantaranya para anggota bisa saling bertukar informasi dan belajar seputar dunia fotografi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>Komunitas <em>on-line</em> ini juga tidak menutup kemungkinan apabila para anggotanya hendak menjual hasil karya fotografi, kamera ataupun produk-produk fotografi lainnya kepada para sesama anggota Ayo foto.com.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>Menurut Taufik Istiqlal, 46, yang telah hampir setahun aktif menjadi anggota Ayo foto.com ini mengaku sangat gembira dengan adanya komunitas fotografi Ayo foto.com. selain keanggotaannya tidak terikat, Ayo Foto.com pun bisa mewadahi para pencinta dunia fotografi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>“Dengan adanya Ayo Foto.com saya bisa bertemu dengan teman baru atau pun teman lama yang sama-sama punya hobi foto, selain itu kita juga bisa sharing seputar genre-genre baru di dunia fotografi, kita juga bisa memajang hasil jepretan kita dan anggota yang lain bisa mengomentarinya, bahkan jika ada yang tertarik, hasil jepretan kita bisa dijual,” papar Taufik kepada SINDO, kemarin.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>Ayo foto.com sangat terbuka bagi para semua fotografer, baik para fotografer amatir yang ingin lebih meng-aktualisasikan dirinya maupun para fotografer prefesional, namun sebagian besar anggota Ayo Foto.com merupakan para fotografer amatir yang saling belajar satu sama lain. Selain foto, anggota pun bisa membuat tulisan di Ayo Foto.com yang bisa dibaca dan dikomentari oleh setiap anggota lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>Taufik, yang tadinya merupakan seorang wartawan foto tidak terlalu memusingkan aliran foto yang ditekuninya. Menurutnya, aliran foto jurnalistik selalu mengedepankan objek yang natural, fotografer mencari momennya sendiri dan lebih banyak berinteraksi dengan kamera dari pada dengan objek,.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>Seperti halnya komunitas on line lainnya, pengalaman sebenarnya lebih banyak didapatkan dari <em>off line</em> (lapangan), Ayo Foto.com hanya mewadahi para pecinta dunia fotografi sebagai tempat sharing seputar dunia fotografi dan teknik fotografi, sedangkan pengalaman hanya bisa didapatkan melalui praktek langsung.<strong> </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">Lain halnya dengan Taufik, Valdi Hidayat, 32, ayofoto.com justru bisa membantu dirinya mencari pekerjaan melalui order memotre. <em>Project</em> yang didapat, mulai dari <em>wedding</em>, <em>advertising catalog</em>, hingga liputan lepas.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span><span> </span>“Dengan saya mengikuti komunitas situs fotografi di ayofoto.com, ini bisa membantu saya mencari pekerjaan. Pekerjaan ini didapat saat saya memiliki link dengan sesama fotografer yang tergabung di ayofoto.com,” kata dia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">Selain <em>project</em> foto, Valdi yang menyukai gaya foto natural ini mengaku, memperoleh banyak ilmu dari fotografer senior yang tergabung di ayofoto.com. Meskipun tidak berinteraksi langsung dengan fotografer senior tersebut, setidaknya Valdi bisa mempelajari hasil foto yang sudah di-<em>posting</em> di ayofoto.com.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">Valdi mengatakan, dari ayofoto.com juga dirinya bisa mempelajari objek foto yang akan dia foto. Tidak jarang, model-model yang akan ia foto bersdiskusi dengan dirinya, agar hasil foto bisa maksimal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">“Hasil foto saya yang sudah di posting di ayofoto.com ada 70 foto. Rata-rata tanggapan forum yang ada di ayofoto.com <em>sih</em> kebanyakan pujian, <em>nggak</em> ada yang aneh-aneh,” tutur dia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">(tulisan ini dibuat saat saya PKL di harian SINDO, dimuat tanggal 11-11-2008)<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nandarodiyana.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nandarodiyana.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nandarodiyana.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nandarodiyana.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nandarodiyana.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nandarodiyana.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nandarodiyana.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nandarodiyana.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nandarodiyana.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nandarodiyana.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nandarodiyana.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nandarodiyana.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nandarodiyana.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nandarodiyana.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nandarodiyana.wordpress.com&amp;blog=3497779&amp;post=24&amp;subd=nandarodiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nandarodiyana.wordpress.com/2008/12/05/komunitas-on-line/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/75494fb68b1603ea9d2cfca703725741?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nandarodiyana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tradisi Mengadakan Konser di SMA 2 Bandung</title>
		<link>http://nandarodiyana.wordpress.com/2008/12/05/tradisi-mengadakan-konser-di-sma-2-bandung/</link>
		<comments>http://nandarodiyana.wordpress.com/2008/12/05/tradisi-mengadakan-konser-di-sma-2-bandung/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 10:15:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nandarodiyana</dc:creator>
				<category><![CDATA[bebas]]></category>
		<category><![CDATA[2004]]></category>
		<category><![CDATA[fikom]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[konser]]></category>
		<category><![CDATA[nanda]]></category>
		<category><![CDATA[nanda rodiyana]]></category>
		<category><![CDATA[nandarodiana]]></category>
		<category><![CDATA[Peterpan]]></category>
		<category><![CDATA[SMAN 2 BANDUNG]]></category>
		<category><![CDATA[unpad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nandarodiyana.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Telinga anda pasti tidak asing lagi dengan grup band asal Banadung yang bernama Peterpan. Seperti yang kita ketahui, Peterpan merupakan salah satu band besar di dunia musik Indonesia. Tidak mudah bagi sebuah Event Organizer (EO) menggelar konser peterpan. Untuk mengatur pelaksanaan sebuah acara sehingga bisa berlangsung sebagaimana mestinya, pada umumnya penggagas acara akan menggunakan jasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nandarodiyana.wordpress.com&amp;blog=3497779&amp;post=17&amp;subd=nandarodiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><strong></strong></p>
<div id="attachment_20" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://nandarodiyana.files.wordpress.com/2008/12/dsc009121.jpg"><img class="size-medium wp-image-20" title="JPEG" src="http://nandarodiyana.files.wordpress.com/2008/12/dsc009121.jpg?w=300&#038;h=225" alt="foto" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Sejumlah panitia siswa SMAN 2 Bandung sukses menggelar Supebazar flight 173 yang dimeriahkan oleh Peterpan.</p></div>
<p>Telinga anda pasti tidak asing lagi dengan grup band asal Banadung yang bernama Peterpan. Seperti yang kita ketahui, Peterpan merupakan salah satu band besar di dunia musik Indonesia. Tidak mudah bagi sebuah Event Organizer (EO) menggelar konser peterpan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">Untuk mengatur pelaksanaan sebuah acara sehingga bisa berlangsung sebagaimana mestinya, pada umumnya penggagas acara akan menggunakan jasa EO untuk mengatur segalanya. Mulai dari tahap persiapan hingga pagelaran konser.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">Namun, anda tahu siwa-siswi SMA 2 Bandung, Jalan Cihampelas No 58, Kota Bandung, Jawa Barat sukses meggelar konser Peterpan pada 22 November lalu yang berhasil mendatangkan lebih dari 9.000 penonton tanpa bantuan dari EO.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">Bahkan selain Peterpan, pertunjukkan yang bertajuk <em>Superbazar Flight 173 </em>juga dibuka oleh grup-grup band lokal dan Ibu Kota, diantaranya Satnite, Motherfather, 3 Generation, Eragon, D.i.e.go, Mood Altering, Rosemary, Alone at Last, Rocket Rockers, Pure Sturday, dan Maliq D’esential feat Twenty Frist Night.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">“Memang tidak mudah menggelar konser besar seperti ini, ersiapannya membutuhkan waktu yang cukup lama. Walaupun repot tapi kami tetap menikatinya, bahkan kami merasa sangat puas dengan penonton yang datang. Sembilan puluh ribu tiket habis terjual dengan harga Rp. 30.0000/tiket, tapi penonton sepertinya lebih dari itu, karena banyak para undangan dan alumni,” ujar Harfin (17), siswa kelas III yang juga wakil ketua acara tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">Pertunjukkan konser seperti ini bagi siwa-siswi SMA 2 Bandung merupakan sebuah kegiatan rutin yang biasanya digelar satu tahun sekali. Untuk menggelar acara tersebut mereka menggalang dana dengan berbagai cara, diantaranya dari orang tua murid, alumni, dan sposor.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">Menurut Harfin sebelum event itu digelar panitia menggelar pra event sebagai ajang latihan menggelar sebuah konser yang lebih besar. Pada pra event tersebut dimeriahkan oleh grup-grup band indie, antara lain Rocket Rockers, Sinden Tosca, Dead Vertical, dan Rosemary.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">“Sebulan sebelum event ini digelar, kami menggelar pra event sebagai ajang latihan menjadi panitia dalam menggelar sebuah konser, sehingga kita siap menggelar konser ini. Selain itu, pra event itu juga sebagai sarana publikasi juga,” tutur Harfin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">Seluruh siswa mulai dari kelas satu hingga kelas tiga semua terlibat menjadi panitia acara. Mereka semua saling bekerja sama dan kompak. Para guru pun mendukung acara tersebut. Adapun peran guru sebagai pendamping. Dukungan para guru juga diwujudkan dengan membantu permasalahan perizinan dan perpajakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">Harfin mengaku untuk menjadi panitia seperti ini para guru tidak mengajarkan secara khusus kepada para siswanya. Mereka belajar turun-temurun dari kakak kelas mereka yang telah meggelar acara serupa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN"><span> </span>“Acara seperti ini sudah tradisi di sekolah ini, untuk menggelar acara ini kami belajar dari kakak-kakak kelas kami yang telah menggelar acara seperti ini juga. Kemungkinan kedepan, adik kelas kita pun akan mengadakan acara serupa. Para guru tidak mengajarkannya di kelas,” kata Harfin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">Seiring dengan maraknya acara-acara pergelaran musik dan acara-acara lainnya, saat ini memang marak bermunculan perusahaan yang menawarkan jasa event organizer, bisnis yang menawarkan jasa penyelenggaraan suatu acara, namun sepertinya hal ini tidak berlaku bagi para siswa-siswi SMA 2 Bandung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;">
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">(tulisan ini dibuat saat saya PKL di Harian SINDO, dimuat tanggal 30-11-2008)<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nandarodiyana.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nandarodiyana.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nandarodiyana.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nandarodiyana.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nandarodiyana.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nandarodiyana.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nandarodiyana.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nandarodiyana.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nandarodiyana.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nandarodiyana.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nandarodiyana.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nandarodiyana.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nandarodiyana.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nandarodiyana.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nandarodiyana.wordpress.com&amp;blog=3497779&amp;post=17&amp;subd=nandarodiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nandarodiyana.wordpress.com/2008/12/05/tradisi-mengadakan-konser-di-sma-2-bandung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/75494fb68b1603ea9d2cfca703725741?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nandarodiyana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nandarodiyana.files.wordpress.com/2008/12/dsc009121.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">JPEG</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Komunitas</title>
		<link>http://nandarodiyana.wordpress.com/2008/11/29/komunitas-rajut-tobucil/</link>
		<comments>http://nandarodiyana.wordpress.com/2008/11/29/komunitas-rajut-tobucil/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Nov 2008 12:59:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nandarodiyana</dc:creator>
				<category><![CDATA[bebas]]></category>
		<category><![CDATA[2004]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[merajut]]></category>
		<category><![CDATA[nanda]]></category>
		<category><![CDATA[raju]]></category>
		<category><![CDATA[rajut]]></category>
		<category><![CDATA[rodiyana]]></category>
		<category><![CDATA[tobucil]]></category>
		<category><![CDATA[unpad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nandarodiyana.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Komunitas Rajut Tobucil Hakpen, Braypen! Dua kata yang asing sekali sepertinya di telinga kita, namun tidak untuk para penghobi rajut yang tergabung dalam komunitas rajut Tobucil. Hakpen dan braypen adalah alat untuk merajut. Komunitas rajut Tobucil, merupakan sebuah komunitas para pecinta dunia rajut merajut. Komunitas yang bermarkas di Jalan Aceh No. 56, Bandung ini merupakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nandarodiyana.wordpress.com&amp;blog=3497779&amp;post=7&amp;subd=nandarodiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">
<div id="attachment_35" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-35" title="dsc00815" src="http://nandarodiyana.files.wordpress.com/2008/11/dsc00815.jpg?w=300&#038;h=225" alt="palupi sedang menunjukkan beberapa rajutan buatannya" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">palupi sedang menunjukkan beberapa rajutan buatannya</p></div>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN">Komunitas Rajut Tobucil </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Hakpen, Braypen! Dua kata yang asing sekali sepertinya di telinga kita, namun tidak untuk para penghobi rajut yang tergabung dalam komunitas rajut Tobucil. Hakpen dan braypen adalah alat untuk merajut. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span> </span>Komunitas rajut Tobucil, merupakan sebuah komunitas para pecinta dunia rajut merajut. Komunitas yang bermarkas di Jalan Aceh No. 56, Bandung ini merupakan wadah berkumpul orang-orang yang memiliki hobi merajut. Di sini setiap orrang bisa saling berbagi informasi, pengalaman dan belajar teknik merajut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">Menurut Palupi Srikinkin (30), Koordinator Komunitas Rajut Tobucil, komunitas ini didirikan sekitar lima tahun yang lalu oleh Tarlen Handayani (31). Palupi yang ditemui Sindo ketika asyik merajut dengan hakpen dan benang rajut mengaku bergabung dan aktif dengan komunitas rajut Tobucil sejak tahun 2005. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">“Komunitas rajut Tobucil ini didirikan oleh Ibu Tarlen sekitar lima tahun yang lalu, komunitas ini mewadahi para penghobi rajut, dimana kita bisa saling belajar seputar teknik-teknik dalam merajut,” kata Palupi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">Keanggotaan komunitas rajut Tobucil tidak dipungut biaya dan bersifat bebas dan tidak terikat, sehingga siapapun bisa bergabung. Anngota biasanya adalah orang-orang yang sudah bisa merajut, mereka biasanya ingin berbagi pengalaman dalam hal merajut atau mencari pekerjaan melalui merajut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">Palupi mengatakan produk rajutan yang dihasilkan sangat ekslusif, sebab dibuat secara manual, oleh karena itu biasanya harga setiap item rajutan sedikit mahal, tergantung tingkat kesulitan dan waktu pengerjaannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">“Rajutan yang dihasilkan itu eklusif harena dibuat secara manual dengan tangan, sehingga tidak ada orang lain yang memakainya. <span> </span>Biasanya produk rajutan yang dihasilkan berupa, tas, topi kupluk, rompi, sandal, hingga sepatu” ujar Palupi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">Komunitas rajut Tobucil pun membuka kelas kursus merajut bagi orang yang tidak bisa merajut, setiap pertemuan dikenakan biaya sebesar Rp. 25.000. Untuk <span> </span>satu bulan Rp. 150.000 dan tiga bulan Rp. 300.000 dengan dua kali pertemuan setiap minggunya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">Komunitas serupa juga terdapat di Jakarta dengan nama mari merajut. Setiap orang bisa melihat komunitas ini di milis<span style="color:black;">, <em>mari <a href="mailto:merajut@yahoo.com"><span style="color:black;text-decoration:none;">merajut@yahoo.com</span></a></em></span>.<span> </span>Milis ini juga berfungsi sebagai alat komunikasi dengan komunitas rajut di Jakarta, biasanya komunitas rajut di Jakarta dan di Bandung mengadakan kegiatan bersama, walaupun biasanya kegiatan bersama ini tidak diagendakan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">Komunitas rajut Tobucil<span> </span>Bandung mengadakan pertemuan anggotanya sebanyak dua kali dalam seminggu, pada hari sabtu dan hari minggu. Adapun kegiatannnya adalah merajut sambil minum kopi dan ngobrol bareng.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">Palupi mengaku untuk mendapatkan inspirasi menganai produk dan model rajutan tidaklah sulit. Menurutnya setiap produk rajutan harus memiliki nilai guna dan estetika, selain bisa digunakan dan nyaman dipakai, perajut pun harus memperhatikan kombinasi warna dan model rajutan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">Tak jarang rajutan yang dianggap sulit, bisa dikerjakan dengan mudah asalkan kita tekun dan mau berusaha. Seperti halnya membuat sepatu rajutan model sepatu Convers, awalnya Palupi mengaku ragu menyelesaikannya. Namun, dengan kesabaran dan ketekunan ia dapat menyelesaikan dan menemukan teknik membuatnya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">“Jika kita membuat sebuah rajutan jangan berfikir sulit dulu, karena merajut tidaklah sulit, hanya dengan ketekunan dan kesabaran sebuah rajutan yang sekalipun sangat sulit pasti dapat dikerjakan,” terang Palupi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">Kini palupi dan teman-temannya tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti <em>Hand Craft day</em> yang akan diadakan pada 6-7 Desemnber 2008 mendatang di Bandung. Ia tengah mengerjakan rajutan berupa banner dan sepatu. Ia berharap dapat menyelesaikannya tepat waktu sehingga dapat memamerkannya nanti. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span lang="IN">(Tulisan Ini dibuat saat saya PKL di Harian SINDO, dimuat tanggal 18-11-2008)<br />
</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nandarodiyana.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nandarodiyana.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nandarodiyana.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nandarodiyana.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nandarodiyana.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nandarodiyana.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nandarodiyana.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nandarodiyana.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nandarodiyana.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nandarodiyana.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nandarodiyana.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nandarodiyana.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nandarodiyana.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nandarodiyana.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nandarodiyana.wordpress.com&amp;blog=3497779&amp;post=7&amp;subd=nandarodiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nandarodiyana.wordpress.com/2008/11/29/komunitas-rajut-tobucil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/75494fb68b1603ea9d2cfca703725741?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nandarodiyana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nandarodiyana.files.wordpress.com/2008/11/dsc00815.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">dsc00815</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ringkasan Buku “Berani Menulis Artikel, Babakan Baru Kiat Menulis Artikel untuk Media Massa Cetak ”</title>
		<link>http://nandarodiyana.wordpress.com/2008/04/16/ringkasan-buku-%e2%80%9cberani-menulis-artikel-babakan-baru-kiat-menulis-artikel-untuk-media-massa-cetak-%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://nandarodiyana.wordpress.com/2008/04/16/ringkasan-buku-%e2%80%9cberani-menulis-artikel-babakan-baru-kiat-menulis-artikel-untuk-media-massa-cetak-%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 10:49:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nandarodiyana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ringkasan Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>
		<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[babakan]]></category>
		<category><![CDATA[baru]]></category>
		<category><![CDATA[berani]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[cetak]]></category>
		<category><![CDATA[fikom]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalistik]]></category>
		<category><![CDATA[kiat]]></category>
		<category><![CDATA[massa]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[nanda]]></category>
		<category><![CDATA[ringkasan]]></category>
		<category><![CDATA[rodiyana]]></category>
		<category><![CDATA[unpad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nandarodiyana.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Ringkasan Buku “Berani Menulis Artikel, Babakan Baru Kiat Menulis Artikel untuk Media Massa Cetak ” Karya Wahyu Wibowo Bab I Artikel, Anatomi Jurnalisme , dan Opini Publik Tulisan atas nama pribadi, yang ciri khasnya memang mencantumkan nama pribadi penulisnya, di dalam media massa cetak biasanya disebut artikel. Namaun, di sisi artikel kita tentu juga kerap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nandarodiyana.wordpress.com&amp;blog=3497779&amp;post=5&amp;subd=nandarodiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:16pt;">Ringkasan Buku “</span><em><span style="font-size:16pt;">Berani Menulis Artikel, Babakan Baru Kiat Menulis Artikel untuk Media Massa Cetak </span></em><span style="font-size:16pt;">”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:16pt;">Karya Wahyu Wibowo</span><span style="font-size:16pt;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Bab I</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Artikel, Anatomi Jurnalisme , dan Opini Publik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Tulisan atas nama pribadi, yang ciri khasnya memang mencantumkan nama pribadi penulisnya, di dalam media massa cetak biasanya disebut artikel. Namaun, di sisi artikel kita tentu juga kerap menemukan dua jenis tulisan lainnya, yang acap kali juga atas nama pribadi, yang kita kenal sebagai esai dan features. Menurut H.B Jassin (1965). Esai adalah fragmentasi seorang penulis mengenai sesuatu hal yang kebutulan menarik perhatiannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Esai, Features, dan Artikel Jurnalistik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Menurut William L. Rivers (2003), kisah atau fakta-fakta telanjang yang termuat di dalam media massa cetak disebut berita. Di sisi berita, dijumpai lagi tajuk rencana, kolom dan tinjauan yang disebut artikel. Sedangkan, sisanya itulah yang disebut features. Jauh sebelum Rivers, Roland E. Wolseley (1957) menyebutkan bahwa features ibarat acar di dalam sajian makanan. Ia bukan merupakan menu utama, tapi mampu menggairahkan nafsu makan kita. Jadi tidak seperti berita, features berkesan lebih ringan, lebih menghibur, dan lebih mengajak pembacanya merenungi makna kemanusiaan. Sementara, menurut Daniel R, Williamson (1983), features ibarat desir angin di antara pepohonan. Maksudnya, tiap-tiap orang mudah merasakan (desiran angin), tapi sulit melukiskan rasa itu dalam kata-kata. Menyimak definisi-definisi ini. Nyatalah kita kebingungan memahami apakah makna features itu, tak heran jika hingga hari ini masih banyak di antara kita yang tidak mampu membedakan antara bentuk esai dan features.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Dari unsur filosofis, sebaiknya kita menyadari bahwa unsur human interest di dalam features menjelma amat nyata di dalam topik-topik tertentu, seperti sejarah, gaya hidup, biografi, kisah perjalanan, keterampilan, dan bahkan topik yang bersifat ilmiah. Dalam konteks ini, sebagaimana esai, tak pelak features pun menuntut penulisnya berfikir cermat. Dengan demikian, saya cendrung menggaris bawahi esai sama dengan features. Implikasinya, dalam kaitan topik buku ini, esai saya kategorikan ke dalam ragam <em>artikel jurnalistik</em>. Atau, dalam ungkapan lain, baik esai maupun artikel sama-sama tulisan berbentuk ringkas – padat yang ditulis dalam media massa cetak berdasarkan opini penulisnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Coba simak bagan berikut ini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Perbedaan /Persamaan Artikel dengan Esai/Feature</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span> </span></p>
<table class="MsoTableGrid" style="border:medium none;border-collapse:collapse;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border:1pt solid windowtext;width:221.4pt;padding:0 5.4pt;" width="295" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span>Artikel</span></strong></p>
</td>
<td style="width:221.4pt;border:1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="295" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span>Esai/Feature</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:221.4pt;border:medium 1pt 1pt none solid solid 0 windowtext windowtext;padding:0 5.4pt;" width="295" valign="top">
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Ekspositoris-argumentatif</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Berpeluang        mendatangkan pencerahan;</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Topiknya        dipicu dari hal yang aktual</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Pantulan        pribadi penulisnya;</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Memecahkan        persoalan</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Bentuk        ringkas-padat;</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Gaya dan        nada penulisannya kebanyakan tegas, lugas, dan serius.</span></li>
</ul>
</td>
<td style="width:221.4pt;border:medium 1pt 1pt medium none solid solid none 0 windowtext windowtext 0;padding:0 5.4pt;" width="295" valign="top">
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Ekspositoris-persuasif;</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Berpeluang        mendatangkan pencerahan;</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Topiknya        dipicu dari hal yang fragmentaris</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Pantulan        pribadi penulisnya;</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Menyajikan        persoalan</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Bentuk        bisa ringkas-padat;</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Gaya dan        nada penulisannya biasanya, ringan, segar, bebas, akrab, dan longgar</span></li>
</ul>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Jurnalistik, Publisistik, dan pers </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Istilah jurnalistik bukan berasal dari kata latin <em>diurna</em>, melainkan tumbuh dari kata inggris <em>journal</em> atau Prancis <em>du jour</em>, yang bermakna “catatan tertulis seseorang mengenai kegiatan sehari-harinya”. Dalam perkembangannya, muncul istilah <em>journalistic </em>(jurnalistik) yang merujuk pada segala aktivitas yang berkaitan dengan tulis-menulis untuk diumumkan. Sementara itu, kita juga mengenal istilah publisistik yang berkaitan dengan disiplin ilmu persuratkabaran yang berkembang di kampus-kampus di Jerman sejak 1920-an. Perkembangan ilmu ini tak terlepas dari kenyataan bahwa ketika itu media komunikasi massa tak hanya berbentuk surat kabar. Selain itu, hingga akhir 1920-an, jumlah penelitian akademik dan desertasi mengenai persuratkabaran tercatat sudah mencapai 500 buah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Di Indonesia, istilah :”jurnalistik”, “Publisistik”, dan “Pers” agaknya digunakan dalam pemahaman yang, hemat saya, terkadang cukup membingungkan. Istilah jurnalistik, umpamanya, merujuk pada aktivitas yang menyangkut kewartawanan, sedangkan istilah publisistik bertalian dengan ilmu jurnalistik sebagaimana diajarkan di kampus-kampus. Sementara, istilah pers, selain (a) orang atau sekelompok orang yang memalukan penyebarluasan berita; (b) penyebarluasan berita baik melalui media massa cetak maupun elektronika; juga (c) bentuk usaha yang bergerak di bidang percetakan dan penerbitan. Walaupun demikian, agar tidak makin membingungkan, hendaknya ketiga istilah tersebut digunakan secara kontekstual. Artinya istilah “pers”, “jurnalistik”, dan bahkan “jurnalisme”, dapat sama-sama dimaknai sebagai aktivitas yang bertalian dengan kewartawanan. Apalagi, sebagaimana sudah diungkapkan, istilah-istilah itu memiliki perkembangan historisnya sendiri-sendiri, yang secara faktual memang sangat mewarnai jejak kelahiran pers kita. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Ciri-ciri Komunikasi Massa </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Komunikasi massa adalah komunikasi menggunakan media massa. Oleh karena itu, untuk memahami jurnalisme masa kini, kini perlu mengenali ciri-ciri utama yang terkandung dalam komunikasi massa. Perhatikan hal-hal berikut ini.</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Bersifat      searah</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Menunya      beraneka ragam</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Sebarannya      tak terbatas</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Segmentasinya      tertentu</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Terlembaga      secara profesional</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Bentuk-bentuk Media Massa Cetak </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Dewasa ini akibat penetrasi teknologi mondial, memang tengah terjadi gejala interferensi di antara bentuk-bentuk media massa cetak. Artinya sangat umum jika kita melihat ada surat kabar yang ukuran kertasnya melebihi ukuran plano (58&#215;85 cm) atau sebaliknya. Walaupun demikian, mengingat hakikatnya, ragam media massa cetak dapat dirinci sebagai berikut:</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Majalah (<em>magazine</em>)      adalah publikasi atau terbitan berkala yang memuat pelbagai artikel,      berita olahan (<em>depth reporting</em>), berita investigatif, cerita,      dongeng, mitos dan legenda.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Jurnal (<em>journal</em>)      adalah catatan harian atau buku harian. Sebgai salah satu ragam bentuk      tulisan yang amat pribadi, jurnal memuat kisah, pengalaman pikiran, atau      peristiwa yang secara runtut menimpa pribadi penulisnya.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Koran (<em>newspaper</em>)      atau surat kabar adalah penerbitan berkala (biasanya harian) yang      berisikan artikel, berita langsung (straight news), dan iklan. Berdasarkan      tujuan dan segmentasinya – pada umumnya muncul dalam mottonya – jenis      koran yang umum, diantaranya adalah koran independen, koran partai, koran      kuning (koran yang menyajikan berita sensasional di seputar gosip, seks,      kriminalitas, dan pornografi).</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Tabloid      adalah kumpulan berita olahan atau berita investigatif, artikel, cerita,      atau iklan yang terbit berkala (biasanya mingguan). Dewasa ini kita bisa melihat      begitu banyak tabloid yang memfokuskan pemberitaannya pada segmentasi      tertentu, seperti tabloid wanita, tabloid politik, tabloi pria, dan      lain-lain.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Pembentukan Opini Publik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Dalam konteks menyenangkan selera masyarakat, pada umumnya media massa cetak menyediakan sebagian halamannya untuk menampung opini atau pendapat pribadi. Opini ini, bisa berupa opini umum, bisa pula opini redaksi (desk opinion). Wujud tulisan opini umum adalah artikel, kolom, dan surat pembaca. Sedangkan wujud tulisan opini redaksi adalah tajuk rencana, pojok, dan karikatur. Media massa cetak kita membagi halaman opini dan halaman pemberitaannya secara tegas. Maksudnya, agar tidak terjadi interferensi antara opini dan fakta. Dalam kaitan dengan pembagian halama opini, perhatikan hal-hal berikut ini:</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Tajuk      rencana (leader news) – yang kerap disebut pula <em>editorial,</em> dari <em>meja      redaksi</em>, atau <em>catatan redaksi, </em>- merupakan indukkarangan pada      koran atau majalah. Disebut “Induk Karangan” (dari bahasa Belanda, <em>hoofd      artikel</em>), karena di situlah cerminan sikap, pandangan, atau opini      pihak penerbit terhadap masalah yang sdang menjadi topik masyarakat. Tidak      ada aturan baku tentang panjang-pendeknya penulisan tajuk. Yang jelas,      menulis tajuk memerlukan ketajaman dan keluasan wawasan, sehingga bukan      menyoroti topik yang sudah kadaluarsa. Kebutuhan ini sejatinya bertalian      dengan fungsi tajuk rencana itu sendiri, yakni sebagai berikut:</span></li>
</ul>
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal"><span>Ramalan (<em>forecasting</em>)<em>.</em> Dengan latar belakang informasi yang mewarnai penulisan tajuk rencana , si      penulis bebas berimajinasi sambil meramalkan peristiwa yang bakal marak;</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Tafsiran (<em>interpretating</em>)<em>. </em><span> </span>Bila ada berita atau peristiwa      yang “kurang jelas” bagi masyarakat, penulisan tajuk rencana bisa di      jadikan pemandu (demi penjelasan ulang);</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Galian (<em>exsplorating</em>).      Penulisan tajuk rencana, selain di dukungoleh informasi internal (melalui      pemberitaannya sendiri) , juga bisa digali langsung melalui informasi      eksternal (via masyarakat).</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><em><span>Pojok. </span></em><span>Tujuan penulisan pojok adalah untuk      “menyentil” atau mengkritik suatu peristiwa yang dimuat dalam koran      tersebut. Berbeda dengan tajuk rencana, pojok di tulis secara singkat,      lugas dan jenaka. </span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span>Karikatur.</span></em><span> Istilah lain menyebutkan “kartun”,      karena wujudnya memang berupa kartun (lukisan tokoh yang berwujud khas dan      lucu). Sebagian bagian dari opini redaksi, karikatur bertujuan melancarkan      kritik, melalui media lukis, sesuai dengan pemberitaan koran tersebut. </span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span>Kolam.</span></em><span> Adalah bagian khusus yang disediakan      untuk kolumnis (penulis tetap). Isinya, berupa komentar atau tanggapan      pribadi terhadap sesuatu peristiwa aktual.misalnya, komentar pribadi      mengenai kebijakan pemerintah dalam penanggulangan kasus flu burung.      Karena bersifat pribadi, kolom mesti menyertakan jelas kolumnisnya (by      line story) dan, jika perlu, sekaligus foto dirinya.</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span>Artikel.</span></em><span> Yang di dalam buku ini di sebut      artikel jurnalistik, adalah tulisan lepas tentang pelbagai soal aktual      yang bersifat opini pribadi penulisnya. Sekalipun bersifat opini (gagasan      murni) , biasanya penulis artikel berangkat dari sejumlah referensi, entah      itu kepustkaan atau hasil wawancara.</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span>Surat      Pembaca.</span></em><span> Di dalam      media massa cetak, surat pembaca variasi namanya banyak sekali, merupakan      salah satu bentuk opini publik yang dianggap ampuh sebagai sarana      berkomunikasi langsung antarwarga masyarakat.</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span>Keampuhannya      terletak pada penyebaran informasinya yang begitu luas.</span></em><span> Dampaknya, bisa membuat pihak yang      terkena surat pembaca gemetar, cemas, dan panas dingin, terutama jika      berkaitan dengan hal-hal yang negatif yang berhubungan dengan layanan      masyarakat.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Beranjak dari hal diatas ini, sebaiknya perlu pula memahami anatomi opini publik, mengingat kita menulis artikel jurnalistik untuk media massa cetak. Menurut catatan historis, Jean-Jacques Rousseau (1712-1778), filsuf prancis yang “memperbarui” perihal asal usul masyarakat, adalah filsuf politik modern pertama yang melakukan analisis opini publik (lihat juga: Bab Dua) . itulah sebabnya, ia mengatakan bahwa opini publik secara langsung bertalian dengan <em>social relationships, </em>bentuk negara, dengan demikian, merupakan ungkapan dari relasi sosil tersebut. Relasi sosial, yang kemudian melahirkan kemauan umum (volonte generle), terjadi karena kemauan-kemampuan individual mengadakan semacam kontrak. Walaupun demikian, kemauan umum bukan penjumlahan belaka dari kemauan-kemauan individual<span> </span>(catatan: konon teori ini langsung memengaruhi berkorbannya Revolusi Prancis dan menjadi ilham dasar bagi kelahiran paham liberalisme-WW). Dengan demikian, menurut Rousseau, wajarlah jika pemerintah di mana pun selalu melandaskan segala persoalannya pada opini ketimbang pada hukum dan kekuasaan. Ia juga mengatakan, dalam proses perubahan sosial tidak ada satu pemerintahan pun yang bisa mengabaikan opini publik diterima maupun ditolak.</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><em><span>Adanya      isu (masalah yang sedang hangat)</span></em><span>, yang membangun sikap kolektif, sehingga muncul pro-kontra, sampai      terjadinya kosensus.</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span>Adanya      publik. </span></em><span>Adanya kelompok      atau komunitas yang kita tahu persis memang tertarik dengan isu tersebut;</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span>Adanya      pilihan-pilihan kompleks yang dilakukan publik. </span></em><span>begitu isu muncul , fokus publik akan      terpecah da mengundang tanggapan setuju atau tidak. </span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span>Adanya      alat penyampaian opini.</span></em><span> Apa pun opini yang hendak di angkat, agar terbuka harus disampaikan      melalui media massa. Banyak cara untuk mengangkat opini, tapi yang paling      baik dan sangat efektif-efisien hanyalah denga ditulis;</span></li>
<li class="MsoNormal"><em><span>Adanya      keterlibatan banyak individu.</span></em><span> Berapa banyak individu yang terlibat, agaknya sulit diprediksi.      Kendati begitu, perhatikanlah bahwa (a) besarnya publik tidk selalu      ditentukan oleh jumlah mayoritas yang terlibat dalam pembincangan isu.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Melihat kedahsyatan efek jurnalisme, sudah saatnya pula kita tergerak untuk menulis artikel jurnalistik. Untuk itu, bacalah bab-bab buku ini ke mana pun Anda pergi, bukanlah berulang-ulang, sampai Anda mampu menangkap “roh”-nya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Bab II</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Manusia, Bahasa Biasa, dan Postmodernisme </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Dewasa ini nama Hamzah Fansuri barangkali tidak setenar nama Hamzah haz, Hamdan ATT, atau Hussein Onn. Namun, tanpa “tangan dingin” Hamzah Fansuri, bahasa dan bangsa kita tidak memiliki ciri-ciri khasnya. Bayangkanlah, ditengah kontroversinya sebagai tokoh “aliran sesat”, karena menyebarkan syiar islam yang menginduk pada ajaran tasawuf <em>wujudiyyah, </em>suri besar Melayu yang hidup di Aceh pada abad ke 17 ini ternyata juga memiliki kepeloporan dalam bentuk sastra dan bahasa Melayu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span><span> </span>Hamzah Fansuri lahir di Kota Barus (disebut pula Kota Fansur), sebuah kota kecil dipantai barat sumatra yang terletak di antara Sibolga dan Singkel. Di Kota inilah Hamzah Fansuri menempa diri dalam ilmu agama, Bahasa Arab , dan Bahasa Parsi, sebelum kemudian berkelana memperdalam ilmu taswufnya. Kendati demikian, kesufiannya tidak dapat dibuktikan langsung melalui seluruh kitab hasil karyanya. Sebab, pada 1637 Sultan Iskandar Tsani, melalui “provokasi” ulama asal india bernama Nuruddin al-Raniri, menitahnya untuk membakar ribuan kitab tasawuf karya Hamzah Fansuri di halam Masjid Raya Banda Aceh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span><span> </span>Beruntung, para muridnya berhasil menyelamatkan sejumlah kecil karya-karya itu. Sehingga, sampai dewasa ini kita masih bisa menikmati karya tasawuf Hamzah Fansuri, termasuk merasakan semangat kepeloporannya dalam bidang sastra dan bahasa Melayu, yang notabene adalah sastra dan bahasa Indonesia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Pesan dan Kebutuhan Informasi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Dari sudut wacana komunikasi, terbukti bahwa pesan yang disiarkan seseorang melalui karya tulisnya bisa memenuhi kebutuhan informasi sekelompok orang. Implikasiya terbukti pula bahwa sebuah karya tulis ternyata mampu membuat kalang kabut penguasa.</span><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Manusia: Berbahasa ataukah berpikir?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Rupanya amat sulit memasung sebuah pemikiran. Sebagaimana dibuktikan sejarah. Pemikiran akan terus hidup sekalipun orangnya “dilenyapkan”. Sebuah pemikiran tak mungkin dapat dilenyapkan sedemikian mudah. Analoginya, andai kita memiliki pemikiran yang logis, bernas, dan cerdas, jangan ragu-ragu untuk melahirkannya melalui artikel.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Secara filosofis sebenarnya merupakan pantulan persoalan apakah manusia cenderung berfikir atau berbahasa, persoalan yang sudah menjadi bahan perbalahan seru di kalangan filusuf sejak lama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span></span><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Dari analisis Bahasa ke Strukturalisme</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Dialektika mengenai apakah manusia cenderung berfikir atau berbahasa, yang bersumber pada pertanyaan besar diseputar eksistensi manusia, memang sudah diminati para filsuf Yunani sejak abad ke-5 SM.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Di dalam wacana linguistik bahasa didefinisikan sebagai sistem simbol bunyi bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap), yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang digunakan sebagai alat berkomunikasi dalam melahirkan perasaan dan pikiran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Aliran strukturalisme ditokohi<span> </span>oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913). Sebagai peletak dasar filosofis – strikturalis terhadap linguistik (ilmu bahasa), ia mengkaji bahasa sebagai suatu struktur. Saussure merupakan Bapak Linguistik Modern. Di Negara AS, metode struktural dikembangkan oleh Leonard Bloomfield (1887-1949), Franz Boaz (1858-1942) dan Edward Sapir (1884-1939). Sementara di Rusia muncul nama strukturalis N.S Trubetzky. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Abad ke-20 Adalah Abad Bahasa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Strukturalisme yang menekankan bahwa bahasa memiliki unsur yang saling berhubungan, atau satu-satunya objek linguistik yang sahih adalah sistem bahasa, memang berkembang pesat pada awal abad ke-20 ke seluruh dunia dan mengilhami para akademikus dalam pelbagai bidang ilmu. Namun, strukturalisme kemudian redup oleh kelahiran filsafat analitik. Apalagi, ketika disadari bahwa strukturalisme mengandung sejumlah kelemahan pokok, misalnya mencerabut objeknya dari rangka sosial budaya dan sejrahnya atau tidak mengakui kemanusiaan suatu objek (Wahyu, 1995)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Filsafat analitik, yang juga dikenal sebagai mazhab analitik bahasa atau filsafat bahasa, muncul di Inggris<span> </span>pada awal abad ke-20 dan menemukan bentuknya pada pertengahan abad ke-20. sebagai mazhab, kemunculan filsafat analitik tidak dapat dilepaskan dari aliran-aliran filsafat sebelumnya, terutama rasionalisme Prancis, empirisme Inggris, dan kritisisme Kant.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Austin dan Filsafat Bahasa Biasa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Austin (A. Joko, 1997) mengemukakan teori yang amat termasyhur mengenai ujaran konstatif, ujaran performatif, dan tindak tutur. Di dalam konteks ini, ia membedakan tiga jenis tindak tutur, yaitu tindak lokusioner, tindak ilokusioner, dan tindak perlokusioner. Semua hal ini disampaikannya dalam karyanya, <em>How To Do Thing with Words</em>.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Dalam hubungan ini, menurut Kaelan (1998), ujaran konstatif memiliki konsekuensi ditentukan benar atau salah berdasarkan hubungan faktual antara si pengujar dan fakta sesungguhnya. Sedangkan kedua, ujaran performatif, yang merupakan lawan dari ujaran konstatif, yakni ujaran yang melukiskan tindakan, yang sukar diketahui benar-salahnya. Dalam ungkapan lain, ujaran performatif tidak dapat ditentukan salah-benarnya berdasarkan faktanya, karena lebih berhubungan dengan perbuatan si pengujar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Postmodernisme di dalam Abad Bahasa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Semangat postmodernisme di dalam bidang filsafat ditengarai muncul pada 1979, ketika Universitas Quebec, di Amerika Utara, menyelenggarakan diskusi mengenai problem sosiologis masyarakat postindustri, khususnya pengaruh perkembangan teknologi terhadap masyarakat masa depan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Postmodernisme yang merambah ke pelbagai bidang kehidupan, sebenarnya merupakan suatu reaksi terhadap gerakan modernisme yang dinilai telah mengalami kegagalan. Modernisme yang ditopang oleh rasionalisme, materialisme, dan kapitalisme yang didukung oleh ilmu pengetahuan mengakibatkan timbulnya disorientasi moral sekaligus terutama karena rontoknya martabat manusia. Dampaknya, manusia mengalami keterasingan, ketertekanan, depresi, dan itulah sebabnya para tokoh postmodernisme terpicu untuk melakukan dekonstruksi paradigma modernisme.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Bab III</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Kesadaran kritis berbahasa dan Teknik Pembingkaian </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Istilah “bawah tanah” biasanya digunakan secara kias untuk menggantikan kata “rahasia” Ingatlah, misalnya, pada kata “gerakan bawah tanah” . Namun, dalam kaitan topik pembicaraan ini, istilah itu hendak saya gunakan untuk menggambarkan aktifitas penerbitan pers diluar jalur resmi , yang pada awal reformasi 1998 bermunculan ibarat nyamuk musim kemarau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Namun, terbilang tahun kemudian, setelah pers Indonesia benar-benar memperoleh kebebasan dan kemandiriannya (menyusul penghapusan SIUPP dan sekaligus Departemen Penerangan) , tiba-tiba saja kita justru disentakkan oleh komentar atau (mantan)<span> </span>Presiden Megawati di muka acara Hari Aksara 2003 bahwa bangsa kita malas membaca (lihat juga:Bab Lima).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Media Massa dan Kesadaran Kritis Berbahasa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Bahasa Indonesia adalah juga alat komunikasi terpenting jurnalis Indonesia dalam menyampaikan pesan, ungkapan perasaan, atau emosi terhadap masyarakat pembacanya. Oleh karena itu,Jurnalis Indonesia<span> </span>dan siapapun kita yang tak mampu memahami eksistensi bahasa Indonesia sebaiknya segera berbenah diri. Seiring dengan pendapat Aldous Huxley, cobalah kini kita resapi ungkapan “jangan sekali-kali melupakan sejarah” (disingkat: “jasmerah”), yang kerap kali diucapkan Bung Karno. Ucapan legendaris ayah mba Mega ini patut dicermati, terutama dalam pertaniannya dengan existensi bahasa Indonesia sebagai bahasa yang memiliki multifungsi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Jika hendak membicarakan bahasa indonesia dewasa ini, sebenarnya kita bisa membokuskan pada dua hal besar: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>(a)<span> </span>Bahasa Indonesia bukan bahasa ibu rata-rata orang Indonesia, sehingga kita menemukan dikotomi tajam antara pemakaian ragam tulis dan ragam lisan dan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>(b) bahasa Indonesia sepanjang sejarahnya merupakan bahasa “kalangan atas” , sehingga mencuatkan iklim panutan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Artinya, tanpa teladan yang baik (guru, tokoh masyarakat, pemimpin, pejabat pemerintah, dan media massa) jangan bermimpi bahasa Indonesia akan dipedulikan masyarakat secara murni dan konsekuen. Oleh karena itu, hemat saya, dibutuhkan semacam strategi <em>pemberdayaan bahasa Indonesia</em> yang visioner, berkala nasional , dan langsung ditangani presiden.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Budaya Menulis dan Struktur Pengetahuan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Interferensi yang terjadi antara ragam bahasa Indonesia lisan dan tulis, yang secara filosofis membuktikan bahwa eksistensi bahasa Indonesia masih kurang dipedulikan, mengimbas pula ke budaya menulis artikel jurnalistik</span><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Dalam pelbagai penelitian terungkap bahwa budaya menulis artikel jurnalistik, terutama di klangan dosen, masih sangat rendah. Penyebabnya , mungkin, honorarium menulis tidak sebanding dengan honorarium mengajar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Pengetahuan manusia bersifat dialogal. Dalam kaitan dalam pengetahuan yang sesuai dengan hakikatnya, di dalam diri manusia dapat dibedakan sekurang-kurangnya tiga rangkap pengetahuan, yang tingkat, kualitas, dan kemampuannya berbeda-beda. Pengetahuan itu adalah <em>Pengetahuan Inderawi, pengetahuan naluri, dan pengetahuan rasional.</em> Sekalipun ketiga rangkap ini berbeda-beda, namun sejatinya tetaplah merupakan kesatuan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Pengetahuan rasional pada umumnya dibagi atas:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(a)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span>pengetahuan biasa </span></em><span>, yakni pengetahuan yang tanpa di topang oleh usaha khusus</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(b)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><em><span>Pengetahuan ilmiah, </span></em><span>yakni pengetahuan yang terorganisasi, yang dengan sistem dan metodenya berusaha mencari hubunga-hubungan yang tetap di antara gejala-gejala.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Walaupun struktur pengetahuan manusia pada hakikatnya terdiri atas tiga rangkap, ternyata ada “jenis” pengetahuan lain yang dimiliki manusia, yakni <em>pengetahuan intuitif (imajinatif)</em>. Pengetahuan yang amat khas manusia ini dapat difungsikan dalam empat hal:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(a)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>kemampuan fantasi bebas, yakni kegiatan mental yang menghasilkan kembali dan menciptakan imaji tanpa adanya objek nyata.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(b)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Kemampuan imajinasi estetis, yakni pembentukan permainan fantasi yang disengaja dalam membentuk komunikasi yang harmonis, sehingga menguakkan situasi batin penciptanya dalam bentuk baru yang mampu menggerakkan pengalaman yang sama kepada orang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(c)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Kemampuan fantasi dalam fungsi praktis, yakni menjelaskan sesuatu yang sulit atau abstrak dengan contoh-contoh yang imajinatif atau dengan perbandingan-perbandingan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(d)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Kemampuan imajinasi dalam penemuan ilmiah, yang dapat membentuk bangunan intelektualitas manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Perihal Topik, Tema, dan Penjudulan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Struktur dasar organisasi tulis-menulis, dalam konteks pembicaraan ini berujuk pada cara kita menentuka topik, tema, dan judul tulisan (catatan: struktur adalah cara menyusun atau membangun sesuatu-WW). Topik atau pokok masalah adalah pokok pembicaraan. Topik tersedia secara melimpah di sekitar kita, seperti persoalan sosial-budaya, teknik, keuangan , musik, dan seterusnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Hal atau gagasan yang harus diutamakan dan menjadi bahasan pokok dalam artikel jurnalistik adalah</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="circle">
<li class="MsoNormal"><span>Topik      tersebut bermanfaat dan layak dibahas</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Topik      tersebut harus topik yang paling menarik menurut kita</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Topik      tersebut cukup kita kenal dengan baik (berada di sekitar kita)</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Topik      jangan terlalu baru</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Penjudulan artikel jurnalistik mesti dipatokan pada prinsip berikut ini:</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="circle">
<li class="MsoNormal"><span>Singkat,      padat, kreatif, dan berkonotasi positif</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Mencerminkan      topik tulisan dan mudah diingat</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Mudah      dibaca dan diucapkan</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Tidak      kemaruk dalam pengungkapan bahasa asing</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Dapat      diterima secara umum</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Harus      berbentuk frase, bukan berbentuk kalimat</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Bentuk-bentuk Wacana</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Bentuk-bentuk wacana ini adalah</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="circle">
<li class="MsoNormal"><span>Argumentasi.      Bentuk tulisan argumentasi menggaris bawahi gagasan atau pikiran      penulisannya dengan bertopang pada pendapat atau argumen yang logis dan objektif(berdasarkan      pembuktian kebenran)</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Deskripsi.      Bentuk tulisan deskripsi mengutamakan kemampuan penulisannya dalam      melukiskan atau merinci sesuatu (peristiwa, kejadian, atau laskap)</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Eksposisi.      Bentuk tulisan eksposisi lebih merupakan pemaparan pemikiran atau pendapat      seorang penulis, tanpa berkehendan memengaruhi pandangapembaca.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Persuasi.      Bentuk tulisan persuasi cenderung bertujuan merayu, membujuk, atau      mengajak pembacanya agar menuruti keinginan si penulisnya.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Narasi.      Bentuk tulisan narasi menggarisbawahi aspek penceritaan atas sesuatu      rangkaian peristiwa (sebab-akibat) yang dikaitkan dalam kurun waktu      tertentu, baik secara objektif maupun imajinatif.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Menguasai Pembaca dengan Teknik Pembingkaian</span></strong><span> </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Melalui pemahaman terhadap analisis pembingkaian, yang dilandasi semangat konstruksionisme Berger dan Luckman, hemat saya, setidaknya sebagai penulis artikel jurnalistik kita akan mampu “menguasai pembaca”. Pasalnya, filosofi pasal konstruksionisme, khususnya dalam memandang media massa, adalah sebagai berikut (bandingkan: Eriyanto, 2001).</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><span>Fakta atau      peristiwa adalah hasil konstruksi. Artinya, penulis artikel jurnalistik      harus piawai dalam mengkonstruksi fakta, peristiwa, atau realitas sosial      secara subjektif, atau “menurut sudut pandang sendiri”. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Media      massa adalah agen konstruksi. Artinya, artikel jurnalistik memang cocok      untuk media massa , mengingat peran media massa sebagai subjek yang      mengonstruksi realitas, lengkap dengan pandangan , bias dan pemihakannya.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Berita      bukan refleksi dari realitas, melainkan “hanyalah” konstruksi dari realitas,      berita (dan juga artikel jurnalistik) adalah pentas drama dimana      pertunjukan dapat diawali dari mana saja.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Berita      bersifat subjektif dan jurnalis bukanlah sekadar pelapor, melainkan      agenkonstruksi realitas. Mengingat fakta atau peristiwa bersifat      subjektif, maka menulis artikel jurnalistik bukan pula sekadar pelapor.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Etika,      pilihan moral, dan keberpihakan jurnalis adalah bagian integral dalam      produksi berita</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Bab IV</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Gaya Penulisan, Habitus, dan Struktur Artikel </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Immanuel Kant (1724-1804), filsuf besar jerman yang ajarannya disebut kritisisme, mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya mencakup empat persoalan, yakni:</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="circle">
<li class="MsoNormal"><span>Apakah      yang dapat kita ketahui (dijawab oleh metafisika)</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Apakah      yang boleh kita kerjakan (dijawab oleh etika)</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Sampai di      manakah pengharapan kita (dijawab oleh agama)</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Apakah      yang dinamakan manusia (dijawab oleh antropologi)</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Menyimak hal di atas, benarlah gaya memang amat memengaruhi penampilan seseorang. Dalam hubungan dengan topik pembicaraan ini, sebagai penulis artikel jurnalistik, mau tak mau, kitapun mesti menyadarinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Perihal Gaya Penulisan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Di dalam lingkup tulis-menulis, perbedaan penyajian sebagaimana terungkap di atas biasa disebut dalam gaya penulisan. Secara umum, gaya penulisan adalah cara pengungkapan diri sendiri melalui bahasa, sehingga membedakannya dengan orang lain. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Secara historis, gaya penulisan sudah dijadikan bahan perdebatan hangat para Filsuf Yunani, khususnya ketika mereka menyinggung persoalan retorika. Retorika, yakni penggunaan kata-kata untuk memengaruhi orang lain alias seni berpidato, kemudian menjadi studi tersendiri yang memengaruhi perkembangan kebudayaan Eropa sejak zaman kuno hingga abad ke-17.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Bagian yang mempersoalkan pemakaian kata atau ungkapan yang mengandung kekuatan dan pesona tertentu untuk mengahadapi situasi tertentu. Berikut ini adalah ketiga hal pokok tersebut (periksa pula: Wahyu,2001,2003):</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="circle">
<li class="MsoNormal"><span>Kejujuran</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Sopan-santun</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Menarik</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Stilistika dan Penyimpangan Bahasa </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Perubahan paradigma retorika, dari sekadar seni berpidato menjadi ilmu tentang gaya berbahasa (stilistika), sebagaiman sudah disinggung, dipicu oleh kalangan linguis strukturalisme pada awal abad ke-20.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Gaya penulisan dapat di pecah menjadi dua:(a) gaya sastra dan (b) gaya bukan sastra, alias gya fungsional, yang berkaitan dengan fungsi-fungsi tertentu. Berdasarkan bentuknya, kedua gaya penulisan ini secara umum dapat dipilah-pilah sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>1. Gaya bahasa pergaulan resmi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>2. gaya bahasa keilmuan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>3. gaya bahasa media massa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>4. Gaya bahasa sehari-hari</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>5. gaya bahasa sastra</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Empat unsur pendukung gaya berbahasa itu adalah sebagai berikut (bandingkan,1981;Henry,1986)</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="circle">
<li class="MsoNormal"><span>Unsur      perbandingan , yakni perbandingan sesuatu dengan sesuatu yang lain dengan      tujuan memperkuat gambaran di benak pembacanya. Bentuk-bentuk perbandingan      yang dikenal secra umum, di antaranya,</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(a)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Perumpamaan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(b)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>metafora </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(c)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>personafikasi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(d)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>dipersonifikasi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(e)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>antitesis</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(f)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>alegori</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(g)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>pleonasme</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="circle">
<li class="MsoNormal"><span>Unsur      pertentangan, yakni mempertentangkan atau melebih-lebihkan sesuatu dengan      tujuan memberi penekanan maksud kepada pembaca. Bentuk-bentuk pertentangan      yang umum dikenal, antara lain,</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(a)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>hiperbola</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(b)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>litotes</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(c)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>ironi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(d)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>oksimoron</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(e)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>antifrasis</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(f)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>paradoks</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(g)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>klimaks</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="circle">
<li class="MsoNormal"><span>Unsur      pertautan , yakni mempertautkan sesuatu dengan sesuatu yang lain sebagai      sebutan pengganti. Bentuk-bentuk pertautan, antara lain, adalah:</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(a)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>metonimi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(b)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>sinekdoke</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(c)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>alusi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(d)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>eufemisme</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(e)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>eponim</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(f)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>epitet</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(g)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>antonomasia</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(h)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>erotesis</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(i)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>pararerisme</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="circle">
<li class="MsoNormal"><span>Unsur      perulangn atau repetisi, yakni mengulang-ulang bunyi, suku kata, kata,      frase, atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan      secara kontekstual. Bentuk-bentuk perulangan, di antaranya,</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(a)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>aliterasi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(b)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>asonansi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(c)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>antanaklasis</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(d)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>kiasmus</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(e)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>epizeukis</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span><span>(f)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>anafora</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Struktur Artikel Jurnalistik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span>Sehubungan dengan gaya berbahasa, berikut ini adalah paparan mengenai stryktur artikel jurnalistik. Secara teoretis, struktur artikel jurnalistik terdiri atas teras (lead), tubuh (body), dan penutup (ending).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Selaras fungsi utamanya di dalam struktur wacana, bentuk alinea dapat dibagi atas (1) alinea pembuka; (2) alinea tubuh; dan (3) alinea penutup (bendingkan: Gorys,1973; Sabarti, 1988; Lamuddin, 2001). Rinciannya adalah sebagai berikut (Pemeriksa: 2001, 2004; lihat: Bab enam).</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="circle">
<li class="MsoNormal"><span>Alinea      pembuka. Alinea yang diletakkan pada awal wacana disebut alinea pembuka,      apapun bentuk wacana itu (berita, artikel jurnalistik, makalah, atau      tiap-tiap bab pada karya ilmiah, atau buku). </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Model 5W 1H, yakni memilih salah satu unsur dalam 5W 1H. Andai nama orang lebih dipentingkan, kita bisa menggunakan unsur who (siapa) pada awal kalimat teras.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Model Kisahan, yang biasa digunakan penulis fiksi atau sekenario film.Tujuannya, menghanyutkan pembaca kedalam suasana peristiwa. Jadi, jika anda ikut marah atau sedih ketika menyaksikan adegan sebuah film, itulah maksud saya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Model Pertanyaan, yakni menyodorkan pertanyaan yang kreatif, menggelitik, dan merangsang rasa ingin tahu pembaca.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Model Kutipan Langsung, yakni dengan mengutip secara ringkas pendapat seseorang (Objek tulisan atau narasumber).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Model Deskriptif, yakni menghadirkan gambaran suatu keadaan atau peristiwa dalam pikiran pembaca, sehingga seolah-olah ia mengalami peristiwa tersebut, berada dengan teras kisahan yang menghanyutkan pembaca di tengah-tengah peristiwa, melalui teras deskriptif pembaca “cuma” dijadikan penonton (namun penonton yang aktif).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Model Ucapan Kondang, yakni dengan cara mengutip ungkapan yang sudah umum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Model Menuding, yakni mengupayakan ada komunikasi langsung bernada akrab dengan pembaca.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Model Sapaan, yakni dengan menyajikan pokok pikiran dalam bentuk surat (seakan-akan kita sedang menulis surat kepada seorang sahabat).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Model Parodi, yakni dengan mengutip motto yang kondang, dengan tujuan mencuatkan kejenakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Model Figuratif, yakni dengan menggunakan bentuk kiasan atau majas (figura bahasa)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Model Literer, yakni dengan mengutip karya sastra yang sudah dikenal luas untuk mengantarkan suatu pernyataan atau peristiwa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Model Penggoda, yakni mengajak pembaca bergurau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Model Ringkasan, yakni hanya membuat inti cerita atau pokok pikiran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Model Stakato (atau disebut pula teras unik), yakni teras yang ditampilkan secara informatif dan imajinatif dalam rangka memikat pembaca.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Model Dialog, yakni teras yang menggunakan bentuk percakapan (lengkap dengan tanda petik).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Model Kumulatif, menyajikan peristiwa secara berurutan, sehingga membawa pembaca ke antiklimaks peristiwa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Model Kontras, menyajikan segi-segi kontras pada objek.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Model Epigram, yakni menggunakan bentuk ungkapan yang sudah dikenal luas.</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="circle">
<li class="MsoNormal"><span>Alinea      Tubuh. Setelah teras berhasil kita susun, tugas kita berikutnya dalam      menguraikan pokok pikiran didalam teras tersebut ketubuh artikel.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Menggunakan Model Spiral, yakni dengan merinci pokok persoalan kedalam alinea dan kemudian lebih merincinya kedalam alinea-alinea berikutnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Menggunakan Model Rekatan, yakni dengan menghubungkan atau merekatkan alinea satu dan yang lainnya dengan partikel penghubung atau penegas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Menggunakan Model Blok, yakni dengan menyebarkan atau membagi-bagi pokok pikiran atau bahan cerita kedalam alinea yang terpisah-pisah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Menggunakan Model Tematik, yakni pokok pikiran yang terdapat dalam tiap-tiap alinea menggarisbawahi atau menegaskan teras.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Menggunakan Model Kronologis, yakni merinci dan mengembangkan alinea berdasarkan hukum sebab akibat atau peristiwa demi peristiwa</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="circle">
<li class="MsoNormal"><span>Alinea      Penutup. Dalam menutup tulisan, upayakan pula agar mengesankan pembaca</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Menggunakan Model Simpulan, yakni dengan merumuskan antiklimaks dari keseluruhan persoalan yang telah diuraikan dalam tubuh. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Menggunakan Model Menggantung, yakni dengan sengaja membuat pertanyaan atau pertanyaan yang tidak selesai, menyentak, atau menyengat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Wingdings;"><span>v<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Menggunakan Model Ringkasan, yakni dengan meringkas inti sari persoalan yang kesemuanya bermuara ke teras.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Bab V</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Plagiarisme, Etika, dan Malas Berpikir</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Dalam perspektif akademik boleh kita pertanyakan, mengapa Ibrahim harus terkena getahnya? Artinya, sebagai mahasiswa pasca sarjana di AS sudah barang tentu tesisnya itu “dibeking” oleh sejumlah guru besar yang bobotnya pastilah tidak bisa dianggap enteng.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Malas Menulis atau Malas Berfikir</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Dalam kehidupan modial, plagiatisme adalah hal yang haram dilakukan hal ini patut di garisbawahi, mengingat dunia Internasional telah mengakui adanya payung hukum yang melindungi hak cipta seseorang. Selain itu kemajuan pesat di bidang teknologi informasi membuat plagiatisme akan cepat diketahui publik kendati demikian, uniknya, plagiatisme di Indonesia seolah menjadi “hal yang biasa”. Sudah menjadi rahasia umum, lihatlah bagaimana aktifitas sebuah dosen menulis laporan penelitian ketika hendak mengurus kenaikan pangkatnya. Salah satu caranya adalah dengan menugasi mahasiswa membuat makalah, yang setelah “dipelintir” hendaknya, lantas digunakan sang dosen itu sebagai penelitian atas namanya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Aspek Ekstrinsik-intrinsik dan tulisan ruwet</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Artikel jurnalistik pada hakikatnya mirip dengan karya tulis akademik, bahkan dengan jenis tulisan lainnya, yakni tak pernah lekang dari konteksnya. Oleh karena itu, ia lekat dengan aspek intrinsik dan ekstrinsik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Dalam pandangan ekstrinsik, pada hakikatnya seorang penulis akan dikategorikan piawai bila: (a) mengerti apa yang harus dikatakan, yakni dengan memahami benar-benar target (visi) tulisannya berdasarkan topik utama dan sakaligus mampu menentukan segmentasi pembacanya (misi), dan (b) mahir mengespresikan diri dengan baik, yang dilandaskan pada asas kalimat efektif, penalaran, dan kesatuan ejaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Pelecehan dan Fitnah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Di dalam dunia jurnalistik, perihal pencemoohan dan penistaan dikenal dengan sebutan (a) libel alias pelecehan, penghujatan, atau pencemaran yang biasa ditemukan dalam media massa cetak; dan (b) slander alias fitnah yang biasanyha ditemukan dalam media massa elektronika.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Etiket, Etika, dan Moral</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Berpihak dari hal diatas, siapapun kita yang menganggap diri profesional, hendaknya perlu memahami perbedaan antara istilah etiket, etika,dan moral. Pasalnya, makna ketiga istilah ini masih sering dikacaukan , sehingga tak jarang seorang profesional kehilangan daya-daya profesionalisme. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Istilah etiket (dari bahasa prancis, etikuete), berkaitan dengan perilaku, tindakan, atau perbuatan seseorang dalam hal “peraturan” sopan santun. “peraturan” ini bisa diungkapkan secara verbal andai diperlukan, namun tak jarang hanya diucapkan di dalam hati, karena “hanya” menyangkut tata peraturan adab. Melarang meeger kita tertawa terbahak-bahak, misalnya tentu sulit bila dilakukan secara verbal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Ungkapan Idiomatik, Ejaan, dan Pembentukan Kata</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Artikel jurnalistik akan dikatakan komunikatif jika berhubungan antar kalimatnya dilakukan secara kohesif, yakni erat, padu, dan sinergis. Kepiawaian penulis artikel jurnalistik dalam merangkai hubungan antar kalimat, dalam konteks ini akan penulis kaitkan dengan (a) penggunaan konjungsi atau kata sambung; (b) penggunaan ungkapan dan pasangan idiomatik atau konjungsi idiomatik; (c) kepatuhan terhadap ejaan dan (d) pemahaman terhadap pembentukan kata. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.25in;line-height:150%;"><span>Konjungsi koordinatif berpotensi menggabungkan dua kalimat atau lebih yang masing-masing bisa berkedudukan setara bisa juga tidak. Cobalah simak hal-hal berikut ini.</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="circle">
<li class="MsoNormal"><span>Biarpun      demikian, sekalipun demikian, sebab itu, itulah sebenarnya, seakan-akan,      maka itu, oleh karena itu, seolah-olah, sehingga, sebagaimana, seperti,      dan walaupun begitu merupakan konjungsi yang bisa digunakan untuk      menyatakan akibat, alasan, atau suatu sebab.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Kemudian,      setelah itu, selanjutnya, seandainya, umpamanya, sekiranya, andaikan,      dengan ,bahwa, dan sementara itu merupakan konjungsi yangt pas untuk      menyatakan waktu, cara, atau penjelasan.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Lagi pula,      tambahan lagi, selain itu, kecuali itu, itupun, agar, sekalipun,      sungguhpun, dan apalagi merupakan konjungsi yang dapat digunakan untuk      menguatkan atau menegaskan sesuatu.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Sebaliknya,      sesungguhnya, malahan, dan namun merupakan konjungsi yang rancak bila      digunakan untuk menyatakan pertentangan.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Jadi,      maka, jika demikian, manakala, bila, dan begitulah merupakan konjungsi      yang baik untuk menyatakan suatu simpulan.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Perihal Rujukan dan Kecermatan Diksi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span>Teman akrab seorang penulis artikel jurnalistik adalah kamus, seperti kamus besar bahasa Indonesia, kamus Inggris-Indonesia,<span> </span>kamus-kamus peristilahan dan kamus lainnya yang relefan. Tidak menutupi kemungkinan, penulis artikel jurnalistik juga menjalin keakraban dengan ensliklopedia,handbook dan kliping.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Bab VI</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Rambo, Relasi Kontekstual, Masalah Alinea</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.5in;line-height:150%;"><span>Jika sedang menyaksikan film ranbo, misalnya, setidaknya batin kita akan terbelah menjadi dua: antara percaya dan takpercaya. Batin yang percaya akan bergumam “wih wih wih” hebatnya Rambo! Seorang diri mampu membebaskan teman-temannya dari tawanan vietcong!” sementara, batin yang tak percaya akan mengungkap, “Ah, mosok ada orang sehebat itu? Si pitung saja jagoan betawi yang tersohor kebal peluru itu, akhirnya bisa tewas ditembak belanda!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Agar tidak menimbulkan perbalahan yang gawat, sebaiknya kita memahami logika atau penalaran dalam perspektif filosofi. Menurut catatan historis, logika adalah ucapan yang dapat dimengerti atau akal budi yang berfungsi bik teratur, sistematis, dan dapat dipahami (periksa: Loresh,2002). Perkembangan logika itu sendiri sebagai objek studi akademis baik di barat (yunani) maupun di timur (India), telah melampaui waktu lebih 3000 tahun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Bermula dari Zeno Asal Siprus</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21pt;line-height:150%;"><span>Kata “logika”, yang berasal dari bahasa latin, logos, yakni “perkataan” atau “makna”, konon digunakan pertama kali oleh Zeno dari Citium, Siprus (264-336 SM), ketika menegaskan bahwa filsafat terdiri dari tiga bagian, yakni fisika berfungsi sebagai ladang beserta pemohonannya), logika (berfungsi sebagai pagarnya), dan etika (berfungsi sebagai buah-buahan). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21pt;line-height:150%;"><span>Pandangan dunia Stoa adalah materialistik, yakni menganggap nyata segala apapun yang bersifat jasmaniah. Dalam hal logika, Stoa menekankan bahwa dunia dikuasai oleh logos alias akal atau rasio ilahi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Relasi Kontekstual dan Penalaran</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21pt;line-height:150%;"><span>Dengan demikian logika atau penalaran memang bersifat kontekstual, asalkan kita bis mengaitkan secara tepat antara ide-ide dan pengertian individu lainnya, itulah sebabnya logis hendaknya perilaku rambo dalam membebaskan teman-temannya dari tawanan pietcong, dapat dilihat pula dari kacamata ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Sebuah artikel jurnalistik yang baik tentu dibangun berdasarkan kalimat-kalimat yang dihubung-hubungkan secara formal (dramatikal) berdasarkan unsur-unsur internalnya. Penghubung formal ini disebut tekstur. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Maka persoalan relasi kontekstual dapat dirinci kedalam empat tipe berikut ini:</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="circle">
<li class="MsoNormal"><span>Tipe benar      dan berhubungan.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Tipe benar      tapi tak berhubungan</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Tipe salah      tapi berhubungan</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Tipe salah      dan tak berhubungan</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Menghindari Kalimat Ingar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21pt;line-height:150%;"><span>Mungkin sudah diketahui kalimat adalah suatu bagian pernyataan yang selesai, atau suatu pikiran yang lengkap, yang dibangun melalui rentetan kata-kata yang disusun berdasarkan kaidah. Dikatakan sebuah kaidah, jika sebuah kalimat sekurang-kurangnya memiliki unsur-unsur subyek (pokok kalimat), predikat (sebutan), tunduk pada aturan EYD, dan cermat dalam diksi (pilihan kata). Sedangkan, pikiran yang lengkap bertalian dengan keutuhan gagasan, yang membuat nilai-nilai informasi yang terkandung didalam kalimat tersebut mencuat dengan mening. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span>Kalimat efektif dapat diketahui berdasarkan ciri-ciri khasnya yakni:</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="circle">
<li class="MsoNormal"><span>Keharmonian</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Kepararelan</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Ketegasan</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Kehematan</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Kecermatan</span></li>
<li class="MsoNormal"><span>Kevariasian</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Jenis Alinea dan Syarat Alinea yang Efektif</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21pt;line-height:150%;"><span>Alinea atau paragraf adalah satuan bahasa yang biasanya merupakan penggabungan beberapa kalimat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21pt;line-height:150%;"><span>Dalam memadukan kalimat menjadi alinea, sejumlah pakar bahasa bersepakat, yang perlu diperhatikan adalah kepanduan kalimatnya, sehingga memantulkan kesatuan pikiran. Disisi itu, kalimat-kalimat dalam alinea harus saling berkaitan, sehingga hanya membicarakan atau gagasan. Menurut fungsinya, kalimat-kalimat dikategorikan sebagai kalimat topik (pokok) dan kalimat pendukung (kalimat penjelas). Kalimat topik adalah kalimat yang berisikan ide pokok atau ide utama alinea. Cirinya berupa kalimat lengkap yang dapat berdiri sendiri, yang mengandung permasalahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21pt;line-height:150%;"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Pascawacana</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Ketahanan Kritik dan Kiat Cepat Menulis Artikel</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21pt;line-height:150%;"><span>Menulis artikel secara empirik, setidaknya merujuk kesejumlah kenyataan. Misalnya, pertama, menulis belum sebelumnya bisa dijadikan mata pencarian tetap. Kedua, dituntut oleh kenyataan internalnya, media massa cetak kita pada umumnya memiliki halaman yang terbatas. Artinya, kita haru bersabar menanti giliran pemuatan artikel kita. Itupun jika dimuat. Lalu, ketiga, artikel kita harus benar-benar menari, baik dari sudut pandang redakturnya maupun dari segi aktualitas faktualitat dan gaya penyajian. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Kontemplasi terhadap Kritik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21pt;line-height:150%;"><span>Dalam konteks ini, mungkin kita juga perlu berkontemplasi, mengapa kita sering alergi terhadap kritik. Dengan berkontemplasi, diharapkan batin kita akan menghadapi katarsis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21pt;line-height:150%;"><span>Kritik jalin-menjalin dengan masalah ega (pribadi) dan harga diri yang direcoki tingkat arogansi. Maka tinggi tingkat arogansi seseorang, makin ia merasa ego dan harga dirinya diatas orang lain, maka makin ogah pula ia di kritik. Di dalam kamus hidupnya tidak ada kata aku salah , kecuali akulah yang paling mampu. Oleh karena itu, agar arogansi kita tidak membabi buta, ada baiknya kita kembali membuka kisah para pemimpin yang justru senang bila dikritik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:150%;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;">Kiat Cepat Menulis Artikel Jurnalistik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:21pt;line-height:150%;"><span>Membuka cakrawala baru, dalam kontek ini dapat kita pertalikan dengan kiat cepat menulis atikel. Pilihlah salah satu kiat di bawah ini sesuai dengan keinginan kita atau mengkombinasikannyaL:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:57pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Pilihan 1: merumuskan topik. Rumuskanlah topik atau pokok pikiran kita. Cukup dalam satu kalimat atau alinea pendek.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:57pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Pilihan 2 : membuat ragangan atau diagram. Jika pokok pikiran kita masih bersifat umum, “terjemahkanlah”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:57pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Pilihan 3 : merumuskan pernyataan tesis. Nyatakanlah informasi yang hendak kita sampaikan dalam wujud pernyataan tesis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:57pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Pilihan 4 : menyusun body artikel. Menyusun body artikel dapat dilakukan dengan cara merancang sejumlah alinea. Setelah merumuskan gagasan utama artikel kita rancanglah sejumlah alinea. Setelah merumuskan gagasan utama, rancanglah sejumlah alinea.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:57pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;"><span>o<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Pilihan 5 : menulis pendahuluan dan kesimpulannya kiat lain menulis artikel cara cepat adalah dengan terlebih dahulu menulis pendahuluan dan kesimpulannya secara sekaligus.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/nandarodiyana.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/nandarodiyana.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nandarodiyana.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nandarodiyana.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nandarodiyana.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nandarodiyana.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nandarodiyana.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nandarodiyana.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nandarodiyana.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nandarodiyana.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nandarodiyana.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nandarodiyana.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nandarodiyana.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nandarodiyana.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nandarodiyana.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nandarodiyana.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nandarodiyana.wordpress.com&amp;blog=3497779&amp;post=5&amp;subd=nandarodiyana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nandarodiyana.wordpress.com/2008/04/16/ringkasan-buku-%e2%80%9cberani-menulis-artikel-babakan-baru-kiat-menulis-artikel-untuk-media-massa-cetak-%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/75494fb68b1603ea9d2cfca703725741?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nandarodiyana</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
