Ringkasan Buku “Berani Menulis Artikel, Babakan Baru Kiat Menulis Artikel untuk Media Massa Cetak ”

Ringkasan Buku “Berani Menulis Artikel, Babakan Baru Kiat Menulis Artikel untuk Media Massa Cetak

Karya Wahyu Wibowo

Bab I

Artikel, Anatomi Jurnalisme , dan Opini Publik

Tulisan atas nama pribadi, yang ciri khasnya memang mencantumkan nama pribadi penulisnya, di dalam media massa cetak biasanya disebut artikel. Namaun, di sisi artikel kita tentu juga kerap menemukan dua jenis tulisan lainnya, yang acap kali juga atas nama pribadi, yang kita kenal sebagai esai dan features. Menurut H.B Jassin (1965). Esai adalah fragmentasi seorang penulis mengenai sesuatu hal yang kebutulan menarik perhatiannya.

· Esai, Features, dan Artikel Jurnalistik

Menurut William L. Rivers (2003), kisah atau fakta-fakta telanjang yang termuat di dalam media massa cetak disebut berita. Di sisi berita, dijumpai lagi tajuk rencana, kolom dan tinjauan yang disebut artikel. Sedangkan, sisanya itulah yang disebut features. Jauh sebelum Rivers, Roland E. Wolseley (1957) menyebutkan bahwa features ibarat acar di dalam sajian makanan. Ia bukan merupakan menu utama, tapi mampu menggairahkan nafsu makan kita. Jadi tidak seperti berita, features berkesan lebih ringan, lebih menghibur, dan lebih mengajak pembacanya merenungi makna kemanusiaan. Sementara, menurut Daniel R, Williamson (1983), features ibarat desir angin di antara pepohonan. Maksudnya, tiap-tiap orang mudah merasakan (desiran angin), tapi sulit melukiskan rasa itu dalam kata-kata. Menyimak definisi-definisi ini. Nyatalah kita kebingungan memahami apakah makna features itu, tak heran jika hingga hari ini masih banyak di antara kita yang tidak mampu membedakan antara bentuk esai dan features.

Dari unsur filosofis, sebaiknya kita menyadari bahwa unsur human interest di dalam features menjelma amat nyata di dalam topik-topik tertentu, seperti sejarah, gaya hidup, biografi, kisah perjalanan, keterampilan, dan bahkan topik yang bersifat ilmiah. Dalam konteks ini, sebagaimana esai, tak pelak features pun menuntut penulisnya berfikir cermat. Dengan demikian, saya cendrung menggaris bawahi esai sama dengan features. Implikasinya, dalam kaitan topik buku ini, esai saya kategorikan ke dalam ragam artikel jurnalistik. Atau, dalam ungkapan lain, baik esai maupun artikel sama-sama tulisan berbentuk ringkas – padat yang ditulis dalam media massa cetak berdasarkan opini penulisnya.

Coba simak bagan berikut ini:

Perbedaan /Persamaan Artikel dengan Esai/Feature

Artikel

Esai/Feature

  • Ekspositoris-argumentatif
  • Berpeluang mendatangkan pencerahan;
  • Topiknya dipicu dari hal yang aktual
  • Pantulan pribadi penulisnya;
  • Memecahkan persoalan
  • Bentuk ringkas-padat;
  • Gaya dan nada penulisannya kebanyakan tegas, lugas, dan serius.
  • Ekspositoris-persuasif;
  • Berpeluang mendatangkan pencerahan;
  • Topiknya dipicu dari hal yang fragmentaris
  • Pantulan pribadi penulisnya;
  • Menyajikan persoalan
  • Bentuk bisa ringkas-padat;
  • Gaya dan nada penulisannya biasanya, ringan, segar, bebas, akrab, dan longgar

· Jurnalistik, Publisistik, dan pers

Istilah jurnalistik bukan berasal dari kata latin diurna, melainkan tumbuh dari kata inggris journal atau Prancis du jour, yang bermakna “catatan tertulis seseorang mengenai kegiatan sehari-harinya”. Dalam perkembangannya, muncul istilah journalistic (jurnalistik) yang merujuk pada segala aktivitas yang berkaitan dengan tulis-menulis untuk diumumkan. Sementara itu, kita juga mengenal istilah publisistik yang berkaitan dengan disiplin ilmu persuratkabaran yang berkembang di kampus-kampus di Jerman sejak 1920-an. Perkembangan ilmu ini tak terlepas dari kenyataan bahwa ketika itu media komunikasi massa tak hanya berbentuk surat kabar. Selain itu, hingga akhir 1920-an, jumlah penelitian akademik dan desertasi mengenai persuratkabaran tercatat sudah mencapai 500 buah.

Di Indonesia, istilah :”jurnalistik”, “Publisistik”, dan “Pers” agaknya digunakan dalam pemahaman yang, hemat saya, terkadang cukup membingungkan. Istilah jurnalistik, umpamanya, merujuk pada aktivitas yang menyangkut kewartawanan, sedangkan istilah publisistik bertalian dengan ilmu jurnalistik sebagaimana diajarkan di kampus-kampus. Sementara, istilah pers, selain (a) orang atau sekelompok orang yang memalukan penyebarluasan berita; (b) penyebarluasan berita baik melalui media massa cetak maupun elektronika; juga (c) bentuk usaha yang bergerak di bidang percetakan dan penerbitan. Walaupun demikian, agar tidak makin membingungkan, hendaknya ketiga istilah tersebut digunakan secara kontekstual. Artinya istilah “pers”, “jurnalistik”, dan bahkan “jurnalisme”, dapat sama-sama dimaknai sebagai aktivitas yang bertalian dengan kewartawanan. Apalagi, sebagaimana sudah diungkapkan, istilah-istilah itu memiliki perkembangan historisnya sendiri-sendiri, yang secara faktual memang sangat mewarnai jejak kelahiran pers kita.

· Ciri-ciri Komunikasi Massa

Komunikasi massa adalah komunikasi menggunakan media massa. Oleh karena itu, untuk memahami jurnalisme masa kini, kini perlu mengenali ciri-ciri utama yang terkandung dalam komunikasi massa. Perhatikan hal-hal berikut ini.

  • Bersifat searah
  • Menunya beraneka ragam
  • Sebarannya tak terbatas
  • Segmentasinya tertentu
  • Terlembaga secara profesional

· Bentuk-bentuk Media Massa Cetak

Dewasa ini akibat penetrasi teknologi mondial, memang tengah terjadi gejala interferensi di antara bentuk-bentuk media massa cetak. Artinya sangat umum jika kita melihat ada surat kabar yang ukuran kertasnya melebihi ukuran plano (58×85 cm) atau sebaliknya. Walaupun demikian, mengingat hakikatnya, ragam media massa cetak dapat dirinci sebagai berikut:

  • Majalah (magazine) adalah publikasi atau terbitan berkala yang memuat pelbagai artikel, berita olahan (depth reporting), berita investigatif, cerita, dongeng, mitos dan legenda.
  • Jurnal (journal) adalah catatan harian atau buku harian. Sebgai salah satu ragam bentuk tulisan yang amat pribadi, jurnal memuat kisah, pengalaman pikiran, atau peristiwa yang secara runtut menimpa pribadi penulisnya.
  • Koran (newspaper) atau surat kabar adalah penerbitan berkala (biasanya harian) yang berisikan artikel, berita langsung (straight news), dan iklan. Berdasarkan tujuan dan segmentasinya – pada umumnya muncul dalam mottonya – jenis koran yang umum, diantaranya adalah koran independen, koran partai, koran kuning (koran yang menyajikan berita sensasional di seputar gosip, seks, kriminalitas, dan pornografi).
  • Tabloid adalah kumpulan berita olahan atau berita investigatif, artikel, cerita, atau iklan yang terbit berkala (biasanya mingguan). Dewasa ini kita bisa melihat begitu banyak tabloid yang memfokuskan pemberitaannya pada segmentasi tertentu, seperti tabloid wanita, tabloid politik, tabloi pria, dan lain-lain.

· Pembentukan Opini Publik

Dalam konteks menyenangkan selera masyarakat, pada umumnya media massa cetak menyediakan sebagian halamannya untuk menampung opini atau pendapat pribadi. Opini ini, bisa berupa opini umum, bisa pula opini redaksi (desk opinion). Wujud tulisan opini umum adalah artikel, kolom, dan surat pembaca. Sedangkan wujud tulisan opini redaksi adalah tajuk rencana, pojok, dan karikatur. Media massa cetak kita membagi halaman opini dan halaman pemberitaannya secara tegas. Maksudnya, agar tidak terjadi interferensi antara opini dan fakta. Dalam kaitan dengan pembagian halama opini, perhatikan hal-hal berikut ini:

  • Tajuk rencana (leader news) – yang kerap disebut pula editorial, dari meja redaksi, atau catatan redaksi, - merupakan indukkarangan pada koran atau majalah. Disebut “Induk Karangan” (dari bahasa Belanda, hoofd artikel), karena di situlah cerminan sikap, pandangan, atau opini pihak penerbit terhadap masalah yang sdang menjadi topik masyarakat. Tidak ada aturan baku tentang panjang-pendeknya penulisan tajuk. Yang jelas, menulis tajuk memerlukan ketajaman dan keluasan wawasan, sehingga bukan menyoroti topik yang sudah kadaluarsa. Kebutuhan ini sejatinya bertalian dengan fungsi tajuk rencana itu sendiri, yakni sebagai berikut:
  1. Ramalan (forecasting). Dengan latar belakang informasi yang mewarnai penulisan tajuk rencana , si penulis bebas berimajinasi sambil meramalkan peristiwa yang bakal marak;
  2. Tafsiran (interpretating). Bila ada berita atau peristiwa yang “kurang jelas” bagi masyarakat, penulisan tajuk rencana bisa di jadikan pemandu (demi penjelasan ulang);
  3. Galian (exsplorating). Penulisan tajuk rencana, selain di dukungoleh informasi internal (melalui pemberitaannya sendiri) , juga bisa digali langsung melalui informasi eksternal (via masyarakat).

  • Pojok. Tujuan penulisan pojok adalah untuk “menyentil” atau mengkritik suatu peristiwa yang dimuat dalam koran tersebut. Berbeda dengan tajuk rencana, pojok di tulis secara singkat, lugas dan jenaka.
  • Karikatur. Istilah lain menyebutkan “kartun”, karena wujudnya memang berupa kartun (lukisan tokoh yang berwujud khas dan lucu). Sebagian bagian dari opini redaksi, karikatur bertujuan melancarkan kritik, melalui media lukis, sesuai dengan pemberitaan koran tersebut.
  • Kolam. Adalah bagian khusus yang disediakan untuk kolumnis (penulis tetap). Isinya, berupa komentar atau tanggapan pribadi terhadap sesuatu peristiwa aktual.misalnya, komentar pribadi mengenai kebijakan pemerintah dalam penanggulangan kasus flu burung. Karena bersifat pribadi, kolom mesti menyertakan jelas kolumnisnya (by line story) dan, jika perlu, sekaligus foto dirinya.
  • Artikel. Yang di dalam buku ini di sebut artikel jurnalistik, adalah tulisan lepas tentang pelbagai soal aktual yang bersifat opini pribadi penulisnya. Sekalipun bersifat opini (gagasan murni) , biasanya penulis artikel berangkat dari sejumlah referensi, entah itu kepustkaan atau hasil wawancara.
  • Surat Pembaca. Di dalam media massa cetak, surat pembaca variasi namanya banyak sekali, merupakan salah satu bentuk opini publik yang dianggap ampuh sebagai sarana berkomunikasi langsung antarwarga masyarakat.
  • Keampuhannya terletak pada penyebaran informasinya yang begitu luas. Dampaknya, bisa membuat pihak yang terkena surat pembaca gemetar, cemas, dan panas dingin, terutama jika berkaitan dengan hal-hal yang negatif yang berhubungan dengan layanan masyarakat.

Beranjak dari hal diatas ini, sebaiknya perlu pula memahami anatomi opini publik, mengingat kita menulis artikel jurnalistik untuk media massa cetak. Menurut catatan historis, Jean-Jacques Rousseau (1712-1778), filsuf prancis yang “memperbarui” perihal asal usul masyarakat, adalah filsuf politik modern pertama yang melakukan analisis opini publik (lihat juga: Bab Dua) . itulah sebabnya, ia mengatakan bahwa opini publik secara langsung bertalian dengan social relationships, bentuk negara, dengan demikian, merupakan ungkapan dari relasi sosil tersebut. Relasi sosial, yang kemudian melahirkan kemauan umum (volonte generle), terjadi karena kemauan-kemampuan individual mengadakan semacam kontrak. Walaupun demikian, kemauan umum bukan penjumlahan belaka dari kemauan-kemauan individual (catatan: konon teori ini langsung memengaruhi berkorbannya Revolusi Prancis dan menjadi ilham dasar bagi kelahiran paham liberalisme-WW). Dengan demikian, menurut Rousseau, wajarlah jika pemerintah di mana pun selalu melandaskan segala persoalannya pada opini ketimbang pada hukum dan kekuasaan. Ia juga mengatakan, dalam proses perubahan sosial tidak ada satu pemerintahan pun yang bisa mengabaikan opini publik diterima maupun ditolak.

  • Adanya isu (masalah yang sedang hangat), yang membangun sikap kolektif, sehingga muncul pro-kontra, sampai terjadinya kosensus.
  • Adanya publik. Adanya kelompok atau komunitas yang kita tahu persis memang tertarik dengan isu tersebut;
  • Adanya pilihan-pilihan kompleks yang dilakukan publik. begitu isu muncul , fokus publik akan terpecah da mengundang tanggapan setuju atau tidak.
  • Adanya alat penyampaian opini. Apa pun opini yang hendak di angkat, agar terbuka harus disampaikan melalui media massa. Banyak cara untuk mengangkat opini, tapi yang paling baik dan sangat efektif-efisien hanyalah denga ditulis;
  • Adanya keterlibatan banyak individu. Berapa banyak individu yang terlibat, agaknya sulit diprediksi. Kendati begitu, perhatikanlah bahwa (a) besarnya publik tidk selalu ditentukan oleh jumlah mayoritas yang terlibat dalam pembincangan isu.

Melihat kedahsyatan efek jurnalisme, sudah saatnya pula kita tergerak untuk menulis artikel jurnalistik. Untuk itu, bacalah bab-bab buku ini ke mana pun Anda pergi, bukanlah berulang-ulang, sampai Anda mampu menangkap “roh”-nya.

Bab II

Manusia, Bahasa Biasa, dan Postmodernisme

Dewasa ini nama Hamzah Fansuri barangkali tidak setenar nama Hamzah haz, Hamdan ATT, atau Hussein Onn. Namun, tanpa “tangan dingin” Hamzah Fansuri, bahasa dan bangsa kita tidak memiliki ciri-ciri khasnya. Bayangkanlah, ditengah kontroversinya sebagai tokoh “aliran sesat”, karena menyebarkan syiar islam yang menginduk pada ajaran tasawuf wujudiyyah, suri besar Melayu yang hidup di Aceh pada abad ke 17 ini ternyata juga memiliki kepeloporan dalam bentuk sastra dan bahasa Melayu.

Hamzah Fansuri lahir di Kota Barus (disebut pula Kota Fansur), sebuah kota kecil dipantai barat sumatra yang terletak di antara Sibolga dan Singkel. Di Kota inilah Hamzah Fansuri menempa diri dalam ilmu agama, Bahasa Arab , dan Bahasa Parsi, sebelum kemudian berkelana memperdalam ilmu taswufnya. Kendati demikian, kesufiannya tidak dapat dibuktikan langsung melalui seluruh kitab hasil karyanya. Sebab, pada 1637 Sultan Iskandar Tsani, melalui “provokasi” ulama asal india bernama Nuruddin al-Raniri, menitahnya untuk membakar ribuan kitab tasawuf karya Hamzah Fansuri di halam Masjid Raya Banda Aceh.

Beruntung, para muridnya berhasil menyelamatkan sejumlah kecil karya-karya itu. Sehingga, sampai dewasa ini kita masih bisa menikmati karya tasawuf Hamzah Fansuri, termasuk merasakan semangat kepeloporannya dalam bidang sastra dan bahasa Melayu, yang notabene adalah sastra dan bahasa Indonesia.

· Pesan dan Kebutuhan Informasi

Dari sudut wacana komunikasi, terbukti bahwa pesan yang disiarkan seseorang melalui karya tulisnya bisa memenuhi kebutuhan informasi sekelompok orang. Implikasiya terbukti pula bahwa sebuah karya tulis ternyata mampu membuat kalang kabut penguasa.

· Manusia: Berbahasa ataukah berpikir?

Rupanya amat sulit memasung sebuah pemikiran. Sebagaimana dibuktikan sejarah. Pemikiran akan terus hidup sekalipun orangnya “dilenyapkan”. Sebuah pemikiran tak mungkin dapat dilenyapkan sedemikian mudah. Analoginya, andai kita memiliki pemikiran yang logis, bernas, dan cerdas, jangan ragu-ragu untuk melahirkannya melalui artikel.

Secara filosofis sebenarnya merupakan pantulan persoalan apakah manusia cenderung berfikir atau berbahasa, persoalan yang sudah menjadi bahan perbalahan seru di kalangan filusuf sejak lama.

· Dari analisis Bahasa ke Strukturalisme

Dialektika mengenai apakah manusia cenderung berfikir atau berbahasa, yang bersumber pada pertanyaan besar diseputar eksistensi manusia, memang sudah diminati para filsuf Yunani sejak abad ke-5 SM.

Di dalam wacana linguistik bahasa didefinisikan sebagai sistem simbol bunyi bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap), yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang digunakan sebagai alat berkomunikasi dalam melahirkan perasaan dan pikiran.

Aliran strukturalisme ditokohi oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913). Sebagai peletak dasar filosofis – strikturalis terhadap linguistik (ilmu bahasa), ia mengkaji bahasa sebagai suatu struktur. Saussure merupakan Bapak Linguistik Modern. Di Negara AS, metode struktural dikembangkan oleh Leonard Bloomfield (1887-1949), Franz Boaz (1858-1942) dan Edward Sapir (1884-1939). Sementara di Rusia muncul nama strukturalis N.S Trubetzky.

· Abad ke-20 Adalah Abad Bahasa

Strukturalisme yang menekankan bahwa bahasa memiliki unsur yang saling berhubungan, atau satu-satunya objek linguistik yang sahih adalah sistem bahasa, memang berkembang pesat pada awal abad ke-20 ke seluruh dunia dan mengilhami para akademikus dalam pelbagai bidang ilmu. Namun, strukturalisme kemudian redup oleh kelahiran filsafat analitik. Apalagi, ketika disadari bahwa strukturalisme mengandung sejumlah kelemahan pokok, misalnya mencerabut objeknya dari rangka sosial budaya dan sejrahnya atau tidak mengakui kemanusiaan suatu objek (Wahyu, 1995)

Filsafat analitik, yang juga dikenal sebagai mazhab analitik bahasa atau filsafat bahasa, muncul di Inggris pada awal abad ke-20 dan menemukan bentuknya pada pertengahan abad ke-20. sebagai mazhab, kemunculan filsafat analitik tidak dapat dilepaskan dari aliran-aliran filsafat sebelumnya, terutama rasionalisme Prancis, empirisme Inggris, dan kritisisme Kant.

· Austin dan Filsafat Bahasa Biasa

Austin (A. Joko, 1997) mengemukakan teori yang amat termasyhur mengenai ujaran konstatif, ujaran performatif, dan tindak tutur. Di dalam konteks ini, ia membedakan tiga jenis tindak tutur, yaitu tindak lokusioner, tindak ilokusioner, dan tindak perlokusioner. Semua hal ini disampaikannya dalam karyanya, How To Do Thing with Words.

Dalam hubungan ini, menurut Kaelan (1998), ujaran konstatif memiliki konsekuensi ditentukan benar atau salah berdasarkan hubungan faktual antara si pengujar dan fakta sesungguhnya. Sedangkan kedua, ujaran performatif, yang merupakan lawan dari ujaran konstatif, yakni ujaran yang melukiskan tindakan, yang sukar diketahui benar-salahnya. Dalam ungkapan lain, ujaran performatif tidak dapat ditentukan salah-benarnya berdasarkan faktanya, karena lebih berhubungan dengan perbuatan si pengujar.

· Postmodernisme di dalam Abad Bahasa

Semangat postmodernisme di dalam bidang filsafat ditengarai muncul pada 1979, ketika Universitas Quebec, di Amerika Utara, menyelenggarakan diskusi mengenai problem sosiologis masyarakat postindustri, khususnya pengaruh perkembangan teknologi terhadap masyarakat masa depan.

Postmodernisme yang merambah ke pelbagai bidang kehidupan, sebenarnya merupakan suatu reaksi terhadap gerakan modernisme yang dinilai telah mengalami kegagalan. Modernisme yang ditopang oleh rasionalisme, materialisme, dan kapitalisme yang didukung oleh ilmu pengetahuan mengakibatkan timbulnya disorientasi moral sekaligus terutama karena rontoknya martabat manusia. Dampaknya, manusia mengalami keterasingan, ketertekanan, depresi, dan itulah sebabnya para tokoh postmodernisme terpicu untuk melakukan dekonstruksi paradigma modernisme.

Bab III

Kesadaran kritis berbahasa dan Teknik Pembingkaian

Istilah “bawah tanah” biasanya digunakan secara kias untuk menggantikan kata “rahasia” Ingatlah, misalnya, pada kata “gerakan bawah tanah” . Namun, dalam kaitan topik pembicaraan ini, istilah itu hendak saya gunakan untuk menggambarkan aktifitas penerbitan pers diluar jalur resmi , yang pada awal reformasi 1998 bermunculan ibarat nyamuk musim kemarau.

Namun, terbilang tahun kemudian, setelah pers Indonesia benar-benar memperoleh kebebasan dan kemandiriannya (menyusul penghapusan SIUPP dan sekaligus Departemen Penerangan) , tiba-tiba saja kita justru disentakkan oleh komentar atau (mantan) Presiden Megawati di muka acara Hari Aksara 2003 bahwa bangsa kita malas membaca (lihat juga:Bab Lima).

· Media Massa dan Kesadaran Kritis Berbahasa

Bahasa Indonesia adalah juga alat komunikasi terpenting jurnalis Indonesia dalam menyampaikan pesan, ungkapan perasaan, atau emosi terhadap masyarakat pembacanya. Oleh karena itu,Jurnalis Indonesia dan siapapun kita yang tak mampu memahami eksistensi bahasa Indonesia sebaiknya segera berbenah diri. Seiring dengan pendapat Aldous Huxley, cobalah kini kita resapi ungkapan “jangan sekali-kali melupakan sejarah” (disingkat: “jasmerah”), yang kerap kali diucapkan Bung Karno. Ucapan legendaris ayah mba Mega ini patut dicermati, terutama dalam pertaniannya dengan existensi bahasa Indonesia sebagai bahasa yang memiliki multifungsi.

Jika hendak membicarakan bahasa indonesia dewasa ini, sebenarnya kita bisa membokuskan pada dua hal besar:

(a) Bahasa Indonesia bukan bahasa ibu rata-rata orang Indonesia, sehingga kita menemukan dikotomi tajam antara pemakaian ragam tulis dan ragam lisan dan

(b) bahasa Indonesia sepanjang sejarahnya merupakan bahasa “kalangan atas” , sehingga mencuatkan iklim panutan.

Artinya, tanpa teladan yang baik (guru, tokoh masyarakat, pemimpin, pejabat pemerintah, dan media massa) jangan bermimpi bahasa Indonesia akan dipedulikan masyarakat secara murni dan konsekuen. Oleh karena itu, hemat saya, dibutuhkan semacam strategi pemberdayaan bahasa Indonesia yang visioner, berkala nasional , dan langsung ditangani presiden.

· Budaya Menulis dan Struktur Pengetahuan

Interferensi yang terjadi antara ragam bahasa Indonesia lisan dan tulis, yang secara filosofis membuktikan bahwa eksistensi bahasa Indonesia masih kurang dipedulikan, mengimbas pula ke budaya menulis artikel jurnalistik.

Dalam pelbagai penelitian terungkap bahwa budaya menulis artikel jurnalistik, terutama di klangan dosen, masih sangat rendah. Penyebabnya , mungkin, honorarium menulis tidak sebanding dengan honorarium mengajar.

Pengetahuan manusia bersifat dialogal. Dalam kaitan dalam pengetahuan yang sesuai dengan hakikatnya, di dalam diri manusia dapat dibedakan sekurang-kurangnya tiga rangkap pengetahuan, yang tingkat, kualitas, dan kemampuannya berbeda-beda. Pengetahuan itu adalah Pengetahuan Inderawi, pengetahuan naluri, dan pengetahuan rasional. Sekalipun ketiga rangkap ini berbeda-beda, namun sejatinya tetaplah merupakan kesatuan.

Pengetahuan rasional pada umumnya dibagi atas:

(a) pengetahuan biasa , yakni pengetahuan yang tanpa di topang oleh usaha khusus

(b) Pengetahuan ilmiah, yakni pengetahuan yang terorganisasi, yang dengan sistem dan metodenya berusaha mencari hubunga-hubungan yang tetap di antara gejala-gejala.

Walaupun struktur pengetahuan manusia pada hakikatnya terdiri atas tiga rangkap, ternyata ada “jenis” pengetahuan lain yang dimiliki manusia, yakni pengetahuan intuitif (imajinatif). Pengetahuan yang amat khas manusia ini dapat difungsikan dalam empat hal:

(a) kemampuan fantasi bebas, yakni kegiatan mental yang menghasilkan kembali dan menciptakan imaji tanpa adanya objek nyata.

(b) Kemampuan imajinasi estetis, yakni pembentukan permainan fantasi yang disengaja dalam membentuk komunikasi yang harmonis, sehingga menguakkan situasi batin penciptanya dalam bentuk baru yang mampu menggerakkan pengalaman yang sama kepada orang lain.

(c) Kemampuan fantasi dalam fungsi praktis, yakni menjelaskan sesuatu yang sulit atau abstrak dengan contoh-contoh yang imajinatif atau dengan perbandingan-perbandingan

(d) Kemampuan imajinasi dalam penemuan ilmiah, yang dapat membentuk bangunan intelektualitas manusia.

· Perihal Topik, Tema, dan Penjudulan

Struktur dasar organisasi tulis-menulis, dalam konteks pembicaraan ini berujuk pada cara kita menentuka topik, tema, dan judul tulisan (catatan: struktur adalah cara menyusun atau membangun sesuatu-WW). Topik atau pokok masalah adalah pokok pembicaraan. Topik tersedia secara melimpah di sekitar kita, seperti persoalan sosial-budaya, teknik, keuangan , musik, dan seterusnya.

Hal atau gagasan yang harus diutamakan dan menjadi bahasan pokok dalam artikel jurnalistik adalah

  • Topik tersebut bermanfaat dan layak dibahas
  • Topik tersebut harus topik yang paling menarik menurut kita
  • Topik tersebut cukup kita kenal dengan baik (berada di sekitar kita)
  • Topik jangan terlalu baru

Penjudulan artikel jurnalistik mesti dipatokan pada prinsip berikut ini:

  • Singkat, padat, kreatif, dan berkonotasi positif
  • Mencerminkan topik tulisan dan mudah diingat
  • Mudah dibaca dan diucapkan
  • Tidak kemaruk dalam pengungkapan bahasa asing
  • Dapat diterima secara umum
  • Harus berbentuk frase, bukan berbentuk kalimat

· Bentuk-bentuk Wacana

Bentuk-bentuk wacana ini adalah

  • Argumentasi. Bentuk tulisan argumentasi menggaris bawahi gagasan atau pikiran penulisannya dengan bertopang pada pendapat atau argumen yang logis dan objektif(berdasarkan pembuktian kebenran)
  • Deskripsi. Bentuk tulisan deskripsi mengutamakan kemampuan penulisannya dalam melukiskan atau merinci sesuatu (peristiwa, kejadian, atau laskap)
  • Eksposisi. Bentuk tulisan eksposisi lebih merupakan pemaparan pemikiran atau pendapat seorang penulis, tanpa berkehendan memengaruhi pandangapembaca.
  • Persuasi. Bentuk tulisan persuasi cenderung bertujuan merayu, membujuk, atau mengajak pembacanya agar menuruti keinginan si penulisnya.
  • Narasi. Bentuk tulisan narasi menggarisbawahi aspek penceritaan atas sesuatu rangkaian peristiwa (sebab-akibat) yang dikaitkan dalam kurun waktu tertentu, baik secara objektif maupun imajinatif.

  • Menguasai Pembaca dengan Teknik Pembingkaian

Melalui pemahaman terhadap analisis pembingkaian, yang dilandasi semangat konstruksionisme Berger dan Luckman, hemat saya, setidaknya sebagai penulis artikel jurnalistik kita akan mampu “menguasai pembaca”. Pasalnya, filosofi pasal konstruksionisme, khususnya dalam memandang media massa, adalah sebagai berikut (bandingkan: Eriyanto, 2001).

  • Fakta atau peristiwa adalah hasil konstruksi. Artinya, penulis artikel jurnalistik harus piawai dalam mengkonstruksi fakta, peristiwa, atau realitas sosial secara subjektif, atau “menurut sudut pandang sendiri”.
  • Media massa adalah agen konstruksi. Artinya, artikel jurnalistik memang cocok untuk media massa , mengingat peran media massa sebagai subjek yang mengonstruksi realitas, lengkap dengan pandangan , bias dan pemihakannya.
  • Berita bukan refleksi dari realitas, melainkan “hanyalah” konstruksi dari realitas, berita (dan juga artikel jurnalistik) adalah pentas drama dimana pertunjukan dapat diawali dari mana saja.
  • Berita bersifat subjektif dan jurnalis bukanlah sekadar pelapor, melainkan agenkonstruksi realitas. Mengingat fakta atau peristiwa bersifat subjektif, maka menulis artikel jurnalistik bukan pula sekadar pelapor.
  • Etika, pilihan moral, dan keberpihakan jurnalis adalah bagian integral dalam produksi berita

Bab IV

Gaya Penulisan, Habitus, dan Struktur Artikel

Immanuel Kant (1724-1804), filsuf besar jerman yang ajarannya disebut kritisisme, mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya mencakup empat persoalan, yakni:

  • Apakah yang dapat kita ketahui (dijawab oleh metafisika)
  • Apakah yang boleh kita kerjakan (dijawab oleh etika)
  • Sampai di manakah pengharapan kita (dijawab oleh agama)
  • Apakah yang dinamakan manusia (dijawab oleh antropologi)

Menyimak hal di atas, benarlah gaya memang amat memengaruhi penampilan seseorang. Dalam hubungan dengan topik pembicaraan ini, sebagai penulis artikel jurnalistik, mau tak mau, kitapun mesti menyadarinya.

· Perihal Gaya Penulisan

Di dalam lingkup tulis-menulis, perbedaan penyajian sebagaimana terungkap di atas biasa disebut dalam gaya penulisan. Secara umum, gaya penulisan adalah cara pengungkapan diri sendiri melalui bahasa, sehingga membedakannya dengan orang lain.

Secara historis, gaya penulisan sudah dijadikan bahan perdebatan hangat para Filsuf Yunani, khususnya ketika mereka menyinggung persoalan retorika. Retorika, yakni penggunaan kata-kata untuk memengaruhi orang lain alias seni berpidato, kemudian menjadi studi tersendiri yang memengaruhi perkembangan kebudayaan Eropa sejak zaman kuno hingga abad ke-17.

Bagian yang mempersoalkan pemakaian kata atau ungkapan yang mengandung kekuatan dan pesona tertentu untuk mengahadapi situasi tertentu. Berikut ini adalah ketiga hal pokok tersebut (periksa pula: Wahyu,2001,2003):

  • Kejujuran
  • Sopan-santun
  • Menarik

· Stilistika dan Penyimpangan Bahasa

Perubahan paradigma retorika, dari sekadar seni berpidato menjadi ilmu tentang gaya berbahasa (stilistika), sebagaiman sudah disinggung, dipicu oleh kalangan linguis strukturalisme pada awal abad ke-20.

Gaya penulisan dapat di pecah menjadi dua:(a) gaya sastra dan (b) gaya bukan sastra, alias gya fungsional, yang berkaitan dengan fungsi-fungsi tertentu. Berdasarkan bentuknya, kedua gaya penulisan ini secara umum dapat dipilah-pilah sebagai berikut:

1. Gaya bahasa pergaulan resmi

2. gaya bahasa keilmuan

3. gaya bahasa media massa

4. Gaya bahasa sehari-hari

5. gaya bahasa sastra

Empat unsur pendukung gaya berbahasa itu adalah sebagai berikut (bandingkan,1981;Henry,1986)

  • Unsur perbandingan , yakni perbandingan sesuatu dengan sesuatu yang lain dengan tujuan memperkuat gambaran di benak pembacanya. Bentuk-bentuk perbandingan yang dikenal secra umum, di antaranya,

(a) Perumpamaan

(b) metafora

(c) personafikasi

(d) dipersonifikasi

(e) antitesis

(f) alegori

(g) pleonasme

  • Unsur pertentangan, yakni mempertentangkan atau melebih-lebihkan sesuatu dengan tujuan memberi penekanan maksud kepada pembaca. Bentuk-bentuk pertentangan yang umum dikenal, antara lain,

(a) hiperbola

(b) litotes

(c) ironi

(d) oksimoron

(e) antifrasis

(f) paradoks

(g) klimaks

  • Unsur pertautan , yakni mempertautkan sesuatu dengan sesuatu yang lain sebagai sebutan pengganti. Bentuk-bentuk pertautan, antara lain, adalah:

(a) metonimi

(b) sinekdoke

(c) alusi

(d) eufemisme

(e) eponim

(f) epitet

(g) antonomasia

(h) erotesis

(i) pararerisme

  • Unsur perulangn atau repetisi, yakni mengulang-ulang bunyi, suku kata, kata, frase, atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan secara kontekstual. Bentuk-bentuk perulangan, di antaranya,

(a) aliterasi

(b) asonansi

(c) antanaklasis

(d) kiasmus

(e) epizeukis

(f) anafora

· Struktur Artikel Jurnalistik

Sehubungan dengan gaya berbahasa, berikut ini adalah paparan mengenai stryktur artikel jurnalistik. Secara teoretis, struktur artikel jurnalistik terdiri atas teras (lead), tubuh (body), dan penutup (ending).

Selaras fungsi utamanya di dalam struktur wacana, bentuk alinea dapat dibagi atas (1) alinea pembuka; (2) alinea tubuh; dan (3) alinea penutup (bendingkan: Gorys,1973; Sabarti, 1988; Lamuddin, 2001). Rinciannya adalah sebagai berikut (Pemeriksa: 2001, 2004; lihat: Bab enam).

  • Alinea pembuka. Alinea yang diletakkan pada awal wacana disebut alinea pembuka, apapun bentuk wacana itu (berita, artikel jurnalistik, makalah, atau tiap-tiap bab pada karya ilmiah, atau buku).

v Model 5W 1H, yakni memilih salah satu unsur dalam 5W 1H. Andai nama orang lebih dipentingkan, kita bisa menggunakan unsur who (siapa) pada awal kalimat teras.

v Model Kisahan, yang biasa digunakan penulis fiksi atau sekenario film.Tujuannya, menghanyutkan pembaca kedalam suasana peristiwa. Jadi, jika anda ikut marah atau sedih ketika menyaksikan adegan sebuah film, itulah maksud saya.

v Model Pertanyaan, yakni menyodorkan pertanyaan yang kreatif, menggelitik, dan merangsang rasa ingin tahu pembaca.

v Model Kutipan Langsung, yakni dengan mengutip secara ringkas pendapat seseorang (Objek tulisan atau narasumber).

v Model Deskriptif, yakni menghadirkan gambaran suatu keadaan atau peristiwa dalam pikiran pembaca, sehingga seolah-olah ia mengalami peristiwa tersebut, berada dengan teras kisahan yang menghanyutkan pembaca di tengah-tengah peristiwa, melalui teras deskriptif pembaca “cuma” dijadikan penonton (namun penonton yang aktif).

v Model Ucapan Kondang, yakni dengan cara mengutip ungkapan yang sudah umum.

v Model Menuding, yakni mengupayakan ada komunikasi langsung bernada akrab dengan pembaca.

v Model Sapaan, yakni dengan menyajikan pokok pikiran dalam bentuk surat (seakan-akan kita sedang menulis surat kepada seorang sahabat).

v Model Parodi, yakni dengan mengutip motto yang kondang, dengan tujuan mencuatkan kejenakan.

v Model Figuratif, yakni dengan menggunakan bentuk kiasan atau majas (figura bahasa)

v Model Literer, yakni dengan mengutip karya sastra yang sudah dikenal luas untuk mengantarkan suatu pernyataan atau peristiwa.

v Model Penggoda, yakni mengajak pembaca bergurau.

v Model Ringkasan, yakni hanya membuat inti cerita atau pokok pikiran.

v Model Stakato (atau disebut pula teras unik), yakni teras yang ditampilkan secara informatif dan imajinatif dalam rangka memikat pembaca.

v Model Dialog, yakni teras yang menggunakan bentuk percakapan (lengkap dengan tanda petik).

v Model Kumulatif, menyajikan peristiwa secara berurutan, sehingga membawa pembaca ke antiklimaks peristiwa.

v Model Kontras, menyajikan segi-segi kontras pada objek.

v Model Epigram, yakni menggunakan bentuk ungkapan yang sudah dikenal luas.

  • Alinea Tubuh. Setelah teras berhasil kita susun, tugas kita berikutnya dalam menguraikan pokok pikiran didalam teras tersebut ketubuh artikel.

v Menggunakan Model Spiral, yakni dengan merinci pokok persoalan kedalam alinea dan kemudian lebih merincinya kedalam alinea-alinea berikutnya.

v Menggunakan Model Rekatan, yakni dengan menghubungkan atau merekatkan alinea satu dan yang lainnya dengan partikel penghubung atau penegas.

v Menggunakan Model Blok, yakni dengan menyebarkan atau membagi-bagi pokok pikiran atau bahan cerita kedalam alinea yang terpisah-pisah.

v Menggunakan Model Tematik, yakni pokok pikiran yang terdapat dalam tiap-tiap alinea menggarisbawahi atau menegaskan teras.

v Menggunakan Model Kronologis, yakni merinci dan mengembangkan alinea berdasarkan hukum sebab akibat atau peristiwa demi peristiwa

  • Alinea Penutup. Dalam menutup tulisan, upayakan pula agar mengesankan pembaca

v Menggunakan Model Simpulan, yakni dengan merumuskan antiklimaks dari keseluruhan persoalan yang telah diuraikan dalam tubuh.

v Menggunakan Model Menggantung, yakni dengan sengaja membuat pertanyaan atau pertanyaan yang tidak selesai, menyentak, atau menyengat.

v Menggunakan Model Ringkasan, yakni dengan meringkas inti sari persoalan yang kesemuanya bermuara ke teras.

Bab V

Plagiarisme, Etika, dan Malas Berpikir

Dalam perspektif akademik boleh kita pertanyakan, mengapa Ibrahim harus terkena getahnya? Artinya, sebagai mahasiswa pasca sarjana di AS sudah barang tentu tesisnya itu “dibeking” oleh sejumlah guru besar yang bobotnya pastilah tidak bisa dianggap enteng.

· Malas Menulis atau Malas Berfikir

Dalam kehidupan modial, plagiatisme adalah hal yang haram dilakukan hal ini patut di garisbawahi, mengingat dunia Internasional telah mengakui adanya payung hukum yang melindungi hak cipta seseorang. Selain itu kemajuan pesat di bidang teknologi informasi membuat plagiatisme akan cepat diketahui publik kendati demikian, uniknya, plagiatisme di Indonesia seolah menjadi “hal yang biasa”. Sudah menjadi rahasia umum, lihatlah bagaimana aktifitas sebuah dosen menulis laporan penelitian ketika hendak mengurus kenaikan pangkatnya. Salah satu caranya adalah dengan menugasi mahasiswa membuat makalah, yang setelah “dipelintir” hendaknya, lantas digunakan sang dosen itu sebagai penelitian atas namanya sendiri.

· Aspek Ekstrinsik-intrinsik dan tulisan ruwet

Artikel jurnalistik pada hakikatnya mirip dengan karya tulis akademik, bahkan dengan jenis tulisan lainnya, yakni tak pernah lekang dari konteksnya. Oleh karena itu, ia lekat dengan aspek intrinsik dan ekstrinsik.

Dalam pandangan ekstrinsik, pada hakikatnya seorang penulis akan dikategorikan piawai bila: (a) mengerti apa yang harus dikatakan, yakni dengan memahami benar-benar target (visi) tulisannya berdasarkan topik utama dan sakaligus mampu menentukan segmentasi pembacanya (misi), dan (b) mahir mengespresikan diri dengan baik, yang dilandaskan pada asas kalimat efektif, penalaran, dan kesatuan ejaan.

· Pelecehan dan Fitnah

Di dalam dunia jurnalistik, perihal pencemoohan dan penistaan dikenal dengan sebutan (a) libel alias pelecehan, penghujatan, atau pencemaran yang biasa ditemukan dalam media massa cetak; dan (b) slander alias fitnah yang biasanyha ditemukan dalam media massa elektronika.

· Etiket, Etika, dan Moral

Berpihak dari hal diatas, siapapun kita yang menganggap diri profesional, hendaknya perlu memahami perbedaan antara istilah etiket, etika,dan moral. Pasalnya, makna ketiga istilah ini masih sering dikacaukan , sehingga tak jarang seorang profesional kehilangan daya-daya profesionalisme.

Istilah etiket (dari bahasa prancis, etikuete), berkaitan dengan perilaku, tindakan, atau perbuatan seseorang dalam hal “peraturan” sopan santun. “peraturan” ini bisa diungkapkan secara verbal andai diperlukan, namun tak jarang hanya diucapkan di dalam hati, karena “hanya” menyangkut tata peraturan adab. Melarang meeger kita tertawa terbahak-bahak, misalnya tentu sulit bila dilakukan secara verbal.

· Ungkapan Idiomatik, Ejaan, dan Pembentukan Kata

Artikel jurnalistik akan dikatakan komunikatif jika berhubungan antar kalimatnya dilakukan secara kohesif, yakni erat, padu, dan sinergis. Kepiawaian penulis artikel jurnalistik dalam merangkai hubungan antar kalimat, dalam konteks ini akan penulis kaitkan dengan (a) penggunaan konjungsi atau kata sambung; (b) penggunaan ungkapan dan pasangan idiomatik atau konjungsi idiomatik; (c) kepatuhan terhadap ejaan dan (d) pemahaman terhadap pembentukan kata.

Konjungsi koordinatif berpotensi menggabungkan dua kalimat atau lebih yang masing-masing bisa berkedudukan setara bisa juga tidak. Cobalah simak hal-hal berikut ini.

  • Biarpun demikian, sekalipun demikian, sebab itu, itulah sebenarnya, seakan-akan, maka itu, oleh karena itu, seolah-olah, sehingga, sebagaimana, seperti, dan walaupun begitu merupakan konjungsi yang bisa digunakan untuk menyatakan akibat, alasan, atau suatu sebab.
  • Kemudian, setelah itu, selanjutnya, seandainya, umpamanya, sekiranya, andaikan, dengan ,bahwa, dan sementara itu merupakan konjungsi yangt pas untuk menyatakan waktu, cara, atau penjelasan.
  • Lagi pula, tambahan lagi, selain itu, kecuali itu, itupun, agar, sekalipun, sungguhpun, dan apalagi merupakan konjungsi yang dapat digunakan untuk menguatkan atau menegaskan sesuatu.
  • Sebaliknya, sesungguhnya, malahan, dan namun merupakan konjungsi yang rancak bila digunakan untuk menyatakan pertentangan.
  • Jadi, maka, jika demikian, manakala, bila, dan begitulah merupakan konjungsi yang baik untuk menyatakan suatu simpulan.

Perihal Rujukan dan Kecermatan Diksi

Teman akrab seorang penulis artikel jurnalistik adalah kamus, seperti kamus besar bahasa Indonesia, kamus Inggris-Indonesia, kamus-kamus peristilahan dan kamus lainnya yang relefan. Tidak menutupi kemungkinan, penulis artikel jurnalistik juga menjalin keakraban dengan ensliklopedia,handbook dan kliping.

Bab VI

Rambo, Relasi Kontekstual, Masalah Alinea

Jika sedang menyaksikan film ranbo, misalnya, setidaknya batin kita akan terbelah menjadi dua: antara percaya dan takpercaya. Batin yang percaya akan bergumam “wih wih wih” hebatnya Rambo! Seorang diri mampu membebaskan teman-temannya dari tawanan vietcong!” sementara, batin yang tak percaya akan mengungkap, “Ah, mosok ada orang sehebat itu? Si pitung saja jagoan betawi yang tersohor kebal peluru itu, akhirnya bisa tewas ditembak belanda!”

Agar tidak menimbulkan perbalahan yang gawat, sebaiknya kita memahami logika atau penalaran dalam perspektif filosofi. Menurut catatan historis, logika adalah ucapan yang dapat dimengerti atau akal budi yang berfungsi bik teratur, sistematis, dan dapat dipahami (periksa: Loresh,2002). Perkembangan logika itu sendiri sebagai objek studi akademis baik di barat (yunani) maupun di timur (India), telah melampaui waktu lebih 3000 tahun.

· Bermula dari Zeno Asal Siprus

Kata “logika”, yang berasal dari bahasa latin, logos, yakni “perkataan” atau “makna”, konon digunakan pertama kali oleh Zeno dari Citium, Siprus (264-336 SM), ketika menegaskan bahwa filsafat terdiri dari tiga bagian, yakni fisika berfungsi sebagai ladang beserta pemohonannya), logika (berfungsi sebagai pagarnya), dan etika (berfungsi sebagai buah-buahan).

Pandangan dunia Stoa adalah materialistik, yakni menganggap nyata segala apapun yang bersifat jasmaniah. Dalam hal logika, Stoa menekankan bahwa dunia dikuasai oleh logos alias akal atau rasio ilahi.

· Relasi Kontekstual dan Penalaran

Dengan demikian logika atau penalaran memang bersifat kontekstual, asalkan kita bis mengaitkan secara tepat antara ide-ide dan pengertian individu lainnya, itulah sebabnya logis hendaknya perilaku rambo dalam membebaskan teman-temannya dari tawanan pietcong, dapat dilihat pula dari kacamata ini.

Sebuah artikel jurnalistik yang baik tentu dibangun berdasarkan kalimat-kalimat yang dihubung-hubungkan secara formal (dramatikal) berdasarkan unsur-unsur internalnya. Penghubung formal ini disebut tekstur.

Maka persoalan relasi kontekstual dapat dirinci kedalam empat tipe berikut ini:

  • Tipe benar dan berhubungan.
  • Tipe benar tapi tak berhubungan
  • Tipe salah tapi berhubungan
  • Tipe salah dan tak berhubungan

· Menghindari Kalimat Ingar

Mungkin sudah diketahui kalimat adalah suatu bagian pernyataan yang selesai, atau suatu pikiran yang lengkap, yang dibangun melalui rentetan kata-kata yang disusun berdasarkan kaidah. Dikatakan sebuah kaidah, jika sebuah kalimat sekurang-kurangnya memiliki unsur-unsur subyek (pokok kalimat), predikat (sebutan), tunduk pada aturan EYD, dan cermat dalam diksi (pilihan kata). Sedangkan, pikiran yang lengkap bertalian dengan keutuhan gagasan, yang membuat nilai-nilai informasi yang terkandung didalam kalimat tersebut mencuat dengan mening.

Kalimat efektif dapat diketahui berdasarkan ciri-ciri khasnya yakni:

  • Keharmonian
  • Kepararelan
  • Ketegasan
  • Kehematan
  • Kecermatan
  • Kevariasian

· Jenis Alinea dan Syarat Alinea yang Efektif

Alinea atau paragraf adalah satuan bahasa yang biasanya merupakan penggabungan beberapa kalimat.

Dalam memadukan kalimat menjadi alinea, sejumlah pakar bahasa bersepakat, yang perlu diperhatikan adalah kepanduan kalimatnya, sehingga memantulkan kesatuan pikiran. Disisi itu, kalimat-kalimat dalam alinea harus saling berkaitan, sehingga hanya membicarakan atau gagasan. Menurut fungsinya, kalimat-kalimat dikategorikan sebagai kalimat topik (pokok) dan kalimat pendukung (kalimat penjelas). Kalimat topik adalah kalimat yang berisikan ide pokok atau ide utama alinea. Cirinya berupa kalimat lengkap yang dapat berdiri sendiri, yang mengandung permasalahan.

Pascawacana

Ketahanan Kritik dan Kiat Cepat Menulis Artikel

Menulis artikel secara empirik, setidaknya merujuk kesejumlah kenyataan. Misalnya, pertama, menulis belum sebelumnya bisa dijadikan mata pencarian tetap. Kedua, dituntut oleh kenyataan internalnya, media massa cetak kita pada umumnya memiliki halaman yang terbatas. Artinya, kita haru bersabar menanti giliran pemuatan artikel kita. Itupun jika dimuat. Lalu, ketiga, artikel kita harus benar-benar menari, baik dari sudut pandang redakturnya maupun dari segi aktualitas faktualitat dan gaya penyajian.

· Kontemplasi terhadap Kritik

Dalam konteks ini, mungkin kita juga perlu berkontemplasi, mengapa kita sering alergi terhadap kritik. Dengan berkontemplasi, diharapkan batin kita akan menghadapi katarsis.

Kritik jalin-menjalin dengan masalah ega (pribadi) dan harga diri yang direcoki tingkat arogansi. Maka tinggi tingkat arogansi seseorang, makin ia merasa ego dan harga dirinya diatas orang lain, maka makin ogah pula ia di kritik. Di dalam kamus hidupnya tidak ada kata aku salah , kecuali akulah yang paling mampu. Oleh karena itu, agar arogansi kita tidak membabi buta, ada baiknya kita kembali membuka kisah para pemimpin yang justru senang bila dikritik.

· Kiat Cepat Menulis Artikel Jurnalistik

Membuka cakrawala baru, dalam kontek ini dapat kita pertalikan dengan kiat cepat menulis atikel. Pilihlah salah satu kiat di bawah ini sesuai dengan keinginan kita atau mengkombinasikannyaL:

o Pilihan 1: merumuskan topik. Rumuskanlah topik atau pokok pikiran kita. Cukup dalam satu kalimat atau alinea pendek.

o Pilihan 2 : membuat ragangan atau diagram. Jika pokok pikiran kita masih bersifat umum, “terjemahkanlah”.

o Pilihan 3 : merumuskan pernyataan tesis. Nyatakanlah informasi yang hendak kita sampaikan dalam wujud pernyataan tesis.

o Pilihan 4 : menyusun body artikel. Menyusun body artikel dapat dilakukan dengan cara merancang sejumlah alinea. Setelah merumuskan gagasan utama artikel kita rancanglah sejumlah alinea. Setelah merumuskan gagasan utama, rancanglah sejumlah alinea.

o Pilihan 5 : menulis pendahuluan dan kesimpulannya kiat lain menulis artikel cara cepat adalah dengan terlebih dahulu menulis pendahuluan dan kesimpulannya secara sekaligus.

About these ads
Explore posts in the same categories: Ringkasan Buku

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , ,

You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: